Dalam rangka pesta nama Gereja katedral mengadakan pertandingan olah raga antar Paroki-paroki di Keuskupan Purwokerto. Adapun Pertandingan yang diikuti oleh Paroki Cilacap adalah Pertandingan Tenis dan Futsal. Kontingen dari cabang Tenis adalah sebagai berikut : Rm. Vincent, OMI, Bp. RB. Widodo, Prabowo Koko, Bp. Robert, Albertus S Hagung, Andreas Lukmas Setiawan, Glenn Aryrton Kotandi, adapun kontingen futsal dari OMK yang di kepalai Neo cs....Dalam pertandingan Tenis..Paroki St. Stephanus memperoleh Juara I dan dari Futsal meraih Juara II. Bravo Cilacap......
Tampilkan postingan dengan label OMK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OMK. Tampilkan semua postingan

KUNJUNGAN LANSIA “OMK CILACAP”
Lansia :
1. Mbah Sawirja(92 tahun)
2. Opa Patricius Ranawikarta (70 tahun)
3. Mbah Sawi (96 tahun)
4. Opa Beni Romulus (73 tahun)
5. Oma Maria Suparni (94 tahun)
1. Mbah Sawirja(92 tahun)
2. Opa Patricius Ranawikarta (70 tahun)
3. Mbah Sawi (96 tahun)
4. Opa Beni Romulus (73 tahun)
5. Oma Maria Suparni (94 tahun)
OMK Cilacap bersama dengan KKMK serta dengan Om Prapto,Bp.
Yohanes mengunjungi 5 lansia. Kunjungan kami bermaksud untuk lebih peduli
kepada sesama dan terutama para lansia. Kami datang kerumah para lansia
menggunakan sepeda dan gowes gowes,berjalan kaki,dan menggunakan mobil untuk
lansia yang rumahnya cukup jauh dari gereja. Kami datang membawa kue,sedikit
sembako,kenang kenangan IYD dan tentunya doa yang berlimpah.
Hari Rabu,25 Juli 2012, OMK Cilacap mengadakan ziarah dan
kunjungan ke lansia. Pukul 15.30 kami berkumpul dihalaman gereja. Sebagian
besar dari kami membawa sepeda dan sisanya naik gowes gowes. Kami berangkat ke
kuburan katolik “kerkop”. Sesampai di kerkop,kami berdoa bersama-sama untuk
mendoakan Alm.Mbah Martinus Marlingat. Sepengetahuan kami,beliau ini bekas
G30/SPKI dan seorang yang tertutup. Namun,dengan begitu beliau tetap mengimani
Kristus sampai dia wafat dan semoga Beliau berbahagia disurga bersama dengan
Tuhan Yesus. Kami juga mendoakan Alm.Mbah Pardjo. Beliau seorang koster gereja
sejak jaman penjajahan dan sudah sangat dikenal umat sebagai koster yang baik
dan ramah. Bahkan saat kematiannya,banyak umat datang dan mendoakan Alm.Mbah
Pardjo.
Kemudian kami gowes gowes
menuju rumah Mbah Sawirja. Dirumah Mbah Sawirja kami berdoa bersama dan menyanyikan
puji-pujian. Kami juga mengadakan perjamuan dengan makan-makanan ringan. Mbah
Sawirja sudah berumur 92tahun dan dibaptis tahun 1981 oleh Rm.Carolus .Istri
Mbah Sawirja beragama muslim beserta anak-anaknya. Meskipun begitu,Mbah Sawirja
setia kepada istrinya yang berbeda agama dan beliau sangat mengimani Kristus
karena katanya “Setia bukan hanya kepada istri,anak,dan cucu,tetapi setia untuk
Yesus juga sangat penting dan saya percaya Yesus selalu ada dalam hidup saya.
Karna Yesus sendirilah yang memilih saya.”
Jum’at,27 Juli 2012. OMK dan KKMK cilacap mengunjungi rumah
Opa Patricius Ranawikarta yang berumur 70 tahun. Karena rumah Opa jauh dari
gereja,jadi kami naik mobil ke tujuan. Opa sudah menjadi katolik sejak tahun
1981 dan dibaptis oleh Rm.Pet. Kami berdoa bersama-sama untuk Opa yang sudah
sakit struk selama 5 tahun dan separuh badannya tidak bisa digerakkan.Saat kita
doa bersama,kami benar-benar merasa bahwa Roh Kudus benar benar ada dalam kami.
Setelah berdoa,Opa mengatakan bahwa dia merasa bahwa setengah badannya yang
tidak bisa digerakkan,setelah kami berdoa bersama ternyata beliau merasakan
bahwa tangan dan kakinya dapat digerakkan kembali. Disini,mukjizat Tuhan
sungguh memang nyata.
Senin,30 Juli 2012 di Rumah
Mbah Sawi. Pukul 16.00 kami berkumpul digereja. Setelah itu kami gowes gowes
menuju rumah Mbah Sawi. Mbah Sawi berumur 96an. Mbah Sawi sempat menangis
ketika kita berdoa untuknya. Mbah Sawi mempunyai 6 anak dan dimasa
mudanya,beliau pernah mengasuh 29 anak terlantar. Baginya, Mencintai Yesus sama
halnya dengan mencintai suaminya yang telah meninggal. “Yesus sudah seperti
suami saya sendiri” kata beliau.
Rabu,1 Agustus 2012 di rumah
Opa Beni Romulus. Kami berjalan kaki menuju rumah Opa Beni. Sesampainya,kami
berdoa bersama-sama. Opa Beni berumur 73tahun dan beliau dibaptis sewaktu
kecil. Opa Beni menderita lumpuh selama kuranglebih 2 tahun. Beliau seorang
yang tegar dan tidak pernah menangis. Namun,saat kami mengunjunginya,dari saat
kami berdoa untuknya,Beliau meneteskan air mata. Disaat sakitnya,beliau sangat
percaya Tuhan sangat mengasihinya. Pesan beliau untuk kaum muda “Tetap rukun
dan selalulah bersatu. Hidup ini penuh konflik,percaya saja pada Yesus.”
Setelah itu,seperti biasa kami makan makanan ringan bersama Opa Beni.
Kamis,2 Agustus 2012,Kami
mengunjungi Oma Maria Suparni dengan naik gowes gowes dan sepeda. Kami berdoa
bersama-sama. Oma Maria berumur 94tahun. Beliau masih sehat. Oma mempunyai anak
yang seorang frater. Frater Tedi meninggal di usia 22 tahun dipulau seribu.
Walaupun Oma tinggal sendirian dirumah,namun beliau mengatakan “Saya tidak
pernah takut dan tidak pernah sendiri,saya bersama Yesus dan saya akan selalu
ada dalam doa”. Oma Maria sangat mengimani Kristus,beliau sangat senang waktu
kami mengunjunginya. Pesan Oma untuk kaum muda katolik “Yang taat mendengar
firman,ingat kepada sesama dan jangan egois. Semoga semuanya diberkati dan
terimakasih saya merasa bahagia. Puji Tuhan.”
Begitulah pengalaman
kami,OMK Cilacap selama salib IYD dicilacap. Semoga bermanfaat.
(ditulis Omk Cilacap)

Pelatihan Pemberdayaan Umat (PPU)
KERANGKA ACUAN (TERM
OF REFERENCE)
PELATIHAN TAHAP I
DALAM RANGKA PELATIHAN PEMBERDAYAAN UMAT (PPU):
PENDAMPING OMK DAN
PENGGERAK KELOMPOK KATEGORIAL
KEUSKUPAN PURWOKERTO
LATAR BELAKANG
Gereja
atau paguyuban orang beriman Katolik Keuskupan Purwokerto hidup di tengah
konteks aktual negara dan bangsa Indonesia, khususnya di wilayah Jawa
Tengah bagian barat. Sebagai bagian dari warga begara dan masyarakat, umat beriman
Katolik turut terlibat dalam dinamika kehidupan bersama di tengah masyarakat.
Apa yang menjadi persoalan, kebutuhan, harapan dan tantangan yang dialami
masyarakat dalam berbagai dimensinya juga dialami dan dihadapi oleh umat
Katolik. Di sinilah panggilan dasar sebagai umat Katolik mendapatkan tempat
bagi aktualisasinya. Umat Katolik dipanggil untuk menghayati dan mewujudkan imannya dalam keterlibatan nyata di
tengah pergumulan masyarakat zaman ini.
Keterlibatan umat Katolik dalam
menghadapi kompleksitas persoalan dan tantangan dalam bidang ekonomi, politik,
sosio-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini (khususnya di wilayah
Keuskupan Purwokerto) semakin dibutuhkan. Namun ada indikasi bahwa keterlibatan
umat Katolik saat ini melemah. Hal ini nampak dari minimnya kader-kader Katolik
yang unggul dan berpengaruh dalam bidang-bidang tersebut di atas. Kader-kader
Katolik memang sudah ada tetapi persoalan utamanya terletak pada lemahnya
proses pemberdayaan yang berkualitas dan berkelanjutan terhadap kader-kader tersebut.
Pemberdayaan yang dimaksud adalah proses dan gerakan supaya para kader menjadi
berdaya,
memiliki otoritas, menjadi subyek dalam kehidupan menggereja dan memasyarakat, dan
kehidupannya menjadi lebih baik sesuai dengan peran dan perutusannya.
Persoalan pemberdayaan
dalam diri para kader itu menunjuk pada dua sasaran: pertama, pendampingan orang muda katolik (OMK) sebagai subyek bina
yang akan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin atau rasul
kemasyarakatan; kedua, penggerak
kelompok kategorial Gerejani selain OMK dan organisisasi kemasyarakatan yang
beridentitas Katolik. Berkaitan dengan sasaran pertama, pendampingan OMK tidak bisa
dipungkiri merupakan suatu hal yang penting dalam karya pastoral pengembangan
Gereja Keuskupan Purwokerto. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai masalah atau keprihatinan yang berakar pada “lemahnya
pendampingan Orang Muda Katolik”. Senada dengan
itu, penyiapan kader-kader atau “rasul
kemasyarakatan” melalui kelompok kategorial gerejani non-OMK dan ormas
beridentitas Katolik juga kurang memadai. Hal ini juga disebutkan dalam
Muspas 2012: “lemahnya/kurangnya kader Gereja.” (bdk. Arah Haluan Keuskupan
Purwokerto 2012-2016, hlm 40).
Strategi yang perlu dipilih untuk mengatasi
masalah lemahnya (baik kuantitas maupun
kualitas) pendampingan OMK dan pemberdayaan “rasul kemasyarakatan” adalah
dengan mempersiapkan tenaga pendamping dan penggerak yang profesional serta sarana-prasarana pendampingan yang memadai di setiap
paroki se-Keuskupan Purwokerto (Gereja Keuskupan Purwokerto Menegaskan Arah; 32). Disadari bahwa peran para pendamping dan penggerak yang memiliki komitmen dan kompetensi dalam misi
pendampingan OMK serta kaderisasi rasul
kemasyarakatan sangatlah penting. Apalagi dihadapkan pada tantangan dinamika OMK dan masyarakat aktual, pendampingan yang men-zaman (up to date)
sangatlah dibutuhkan. Selain itu, Musyawarah Pastoral Keuskupan Purwokerto (MUSPAS KP) 2006 dengan jelas menemukan bahwa tenaga pastoral yang
handal (baik hirarki, rohaniwan/wati dan awam) dalam karya pastoral kaum muda dan kaderisasi rasul awam belum memadai (baik dari segi
kuantitas maupun kualitas). Muspas 2012 kembali menekankan hal ini: “perlu
adanya paguyuban yang mempunyai pola regenerasi dan kaderisasi” (Arah Haluan
Keuskupan Purwokerto 2012-2016, hlm 87). Pertanyaannya: bagaimana meningkatkan komitmen dan kapasitas para pendamping
OMK dan penggerak kelompok
kategorial/ormas beridentitas Katolik agar dapat memberikan pelayanan kepada OMK serta menyiapkan rasul kemasyarakatan secara memadai dan up to
date?
Dilatarbelakangi oleh masalah dan tantangan yang terumuskan dalam butir-butir
pertanyaan itulah, Pelatihan Pendamping OMK dan penggerak Kelompok Kategorial Keuskupan Purwokerto dipilih sebagai strategi agar pemberdayaan yang manusiawi dan kristiani dapat tercapai dan muncul rasul-rasul kemasyarakatan dari kalangan
Katolik.
Untuk itu dibentuklah
tim pemberdayaan lintas komisi Keuskupan Purwokerto sebagai wadah yang bertugas
mengkordinir jalannya pemberdayaan para kader dengan mengadakan pelatihan berjenjang.
Tim ini telah terbentuk pada Oktober 2009 dibawah kordiniasi Vikjend Keuskupan Purwokerto.
Sebagai langkah awal, tim telah menyelenggarakan analisa TOWS dan Kebutuhan Pendamping OMK dan Penggerak Kelompok Kategorial/Ormas beridentitas
Katolik pada
bulan November 2009. Tim juga telah
menyusun
Kurikulum dan Modul Pendampingan OMK dan
Penggerak Kelompok Kategorial/Ormas beridentitas Katolik di Keuskupan Purwokerto.
Kemudian, langkah yang
sangat penting yakni pelatihan pendamping OMK/Kelompok Kategorial/Ormas beridentitas Katolik.
Pelatihan ini dibuat berjenjang yakni: tingkat dasar dilakukan setahun dua kali. Setelah
dua kali melakukan pelatihan tingkat dasar, para pesertanya diikutsertakan dalam pelatihan pendamping tingkat menengah. Kemudian, pelatihan tingkat lanjut (advance) yang dilakukan setelah tiap dua kali pelatihan tingkat
menengah. Pelatihan pada jenjang yang lebih tinggi dilakukan setelah dua kali
penyelenggaraan pelatihan pada jenjang sebelumnya karena mengantisipasi
berkurangnya para pendamping yang masih terlibat aktif dan dapat mengikuti
pelatihan pada jenjang yang lebih tinggi tersebut, dan untuk memulai pengguliran proses dan gerakan
pemberdayaan tersebut, diadakanlah pelatihan tahap I.
TUJUAN PELATIHAN TAHAP I
a.
Tujuan Umum:
Tujuan
umum pelatihan dalam rangka pemberdayaan tahap I ini adalah komitmen dan kesadaran akan peran penting para
aktifis Gereja Katolik, yakni pendamping OMK dan
penggerak Kelompok Kategorial/Ormas beridentitas Katolik dalam karya pendampingan kaum
muda serta penyiapan rasul kemasyarakatan
di wilayah
Keuskupan Purwokerto.
b.
Tujuan Khusus:
Tujuan
Khusus pelatihan dalam rangka pemberdayaan tahap I ini adalah:
1.
Peningkatan kapasitas (kognitif, afektif dan konatif)
Pendamping OMK dan Penggerak Kelompok
Kategorial/Ormas beridentitas Katolik dalam melakukan karya pendampingan secara optimal,
berkelanjutan dan mampu menjawab tantangan zaman.
2.
Perekrutan dan pelatihan para calon pendamping OMK dan penggerak kelompok kategorial/Ormas beridentitas
Katolik yang
memiliki komitmen dan kapasitas memadai.
SASARAN
Aktifis Gereja Katolik di Keuskupan
Purwokerto sebanyak 60 orang berumur
21-40 tahun (panitia pelaksana akan mengirim kriteria secara lengkap beserta
assesment untuk peserta).
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Hari :
Jumat-Minggu, 31 Agustus-2 September 2012
Tempat
: Rumah Retret Kaliori
MATERI
1.
Spiritualitas
Pribadi
2.
Katolisitas yang
menggarami masyarakat.
3.
Spritualitas Kepemimpinan Yesus: prinsip dasar kepemimpinan, spiritualitas, ketrampilan
dasar seorang pemimpin.
METODE
1.
Experential learning (belajar dari dan
melalui pengalaman): refleksi pribadi, refleksi kelompok, sharing
2.
Ceramah, game.
3.
Outbound.
4.
Rencana Tindak Lanjut: tugas dan komitmen pribadi, tim kerja,
jaringan, program, pendanaan, monitoring, dan evaluasi.
Demikianlah kerangka
acuan Pelatihan Tahap I Dalam Rangka Pemberdayaan Pendamping OMK dan Penggerak
Kelompok Kategorial Keuskupan Purwokerto, semoga menjadi sarana yang baik untuk
bahan acuan pelatihan yang direncanakan dan tercapailah tujuan kegiatan ini.
Purwokerto, 4 Agustus 2012
Robertus Suraji, Pr
Koordinator Tim Pemberdayaan
Tarcisius Puryatno, Pr
Vikjend
Bagaimana mengelola pastoral kaum muda paroki di era digital?
Fakta:
SMS tgl 3 Oktober 2010 pk 18.07 WIB:
“Mo, binun deh, knapa temen OMK, ga mw misa. Doi aktivis komunitas
doa kita. Katanya misa bikin boring mending bikin doa sendiri, kadang
jajan ke grj bethel n pantekosta” .
Dalam hati aku bergumam: “Ini wilayah katekese Liturgi , spiritualitas dan komunitas”.
Yahoo Mesenger, chatting tgl 20 Juli 2010 pk 20.44 WIB:
“Mo, tolong. aku sakit hati banget. Rasanya habis manis sepah
dibuang. Kecewa… kok ada cowok Katolik seperti itu. Pedih… pedih… mau
nangis… ”
Dalam hati aku bergumam: “Ini wilayah Pengakuan dan Kamar Tamu
(Konseling-Poimenik), tapi toh bertalian dengan aneka kerumitan
lainnya”.
Yahoo Mesenger, chatting tgl 14 September 2010 pk 18.05 WIB:
Seorang Ketua Lingkungan di Semarang: “Mo, paya de… ada BKS di rumah,
anakku malah nglayap.. piye, jal?. Yang hadir cuma 5 orang
tuwir-tuwir”.
Dalam hati aku bergumam: “Ini wilayah Sistemik fokus Pastoral yg tak kunjung jelas”
Mail Message melalui Facebook, 26 Agustus 2010 pk 19.15 WIB:
“Mo, kalo ada info kerjaan, please aku diprioritaskan yaaach… Mummmeett…”
Dalam hati bergumam: “Soal ini, Presiden dan Mentri Tenaga Kerja pun bingung?”
Komentar seorang pastor tahun 2001, pada rekoleksi Tahun Kaum Muda KAS:
“Sudah habis waktuku buat misa lingkungan, berkat jenazah, kunjungan
keluarga… Tak sempat lagi ngurus kaum muda… Malah mereka bikin ribet
saja… memboroskan dana…”
Dalam hati bergumam: “Ini soal paradigma terhadap orang muda dan paradigma tugas pastoral”.
Kalimat dari mulut aktivis ormas muda, tahun 2005, pernas OMKI Cibubur:
“OMK, Mudika.. apa bedanya tuh… bikin bingung.. Apa maunya Gereja?
Tetap saja kaum muda Katolik jago kandang… tak mau ke luar gaul di
sesama muda-mudi agama lain dan masyarakat…”
Dalam hati berumam: “Ini soal Apostolicam Actuositatem, Nostra Aetate, dan Evangelii Nuntiandi”
Dan masih banyak lagi….
Ada yang bilang: Pastoral OMK, dari dulu sampai kekal, selalu mulai
dari nol menuju tak jelas. Tetapi bagi saya, pasti itu karena pihak-
pihak yang mestinya menangani tidak mau terjun. Jika kita mau terjun
langsung bersama OMK, tetap ada benih-benih unggul dan secercah harapan.
Bagaimanapun, pastoral OMK, (lajang usia 13 – 35 tahun, PKPKM –
KomKep KWI 1995), tetap rumit, melibatkan semua dimensi kehidupan, namun
bagaimanapun tetap vital karena masa depan kita di tangan mereka. Dari
mana kita mulai memikirkannya?
How to Intiate? Dari Visi Gereja !
Gereja Katolik sekarang hidup dengan semangat Konsili Vatikan II
(1962-1965). Sebagai muktamar para uskup yang terbesar sepanjang sejarah
Gereja, konsili ini kental berwarna pastoral. Konsili Vatikan II
memberi visi baru tentang karya pastoral Gereja. Para bapa konsili di
bawah kepemimpinan paus membaharui pertama-tama visi mengenai Gereja,
yakni Umat Allah. (lihat Lumen Gentium bab II). Gereja adalah
kesatuan seluruh umat beriman kepada Kristus. Salah satu konsekuensi
pastoralnya ialah bahwa Gereja mesti terbuka pada seluruh umat, siapa
mereka, apa profesi serta dari mana di mana pun posisi mereka.
Faham bahwa karya pastoral Gereja paroki adalah karya sakramental
teritorial saja kini dinilai tidak cukup lagi. Gereja di jaman ini
dipanggil juga untuk menjadi Gereja kategorial, demi pelayanan yang
makin menjangkau semakin banyak orang, khususnya orang muda.. Kekuatan
Gereja tidak tergantung pada kemampuan dan kemauan pastor parokinya
belaka. Selain tidak sesuai dengan zaman, juga tidak sesuai dengan
cita-cita Konsili Vatikan II, sebab yang bisa dijala hanya oleh
inisiatif pastor paroki terbatas. Umat dan orang muda punya pengalaman
hidup dan iman mereka sesuai dengan panggilan profesinya masing-masing.
Visi Tentang Pastor Paroki
Fakta sejak abad-abad lalu, pastor paroki adalah seorang pelayan
sakramen di batas wilayah teritorial tertentu. Hal ini berlangsung
terus, praktis sampai zaman pasca Konsili Vatikan II ini. Namun,
seorang pastor paroki di zaman ini mesti menempatkan dirinya dalam visi
Gereja mondial serta menyadari panggilannya berkait dengan visi karya
pastoral Gereja Konsili Vatika II. Maka menjadi seorang pastor paroki
diharapkan tidak hanya menjadi seorang pelayan sakramen, apalagi hanya
’tukang’ Ekaristi saja walaupun itu memang tugas pokok pertama kali. Hal
ini karena pastor bukan hanya seorang pemimpin, namun juga mesti
seorang manager. Tapi hendaknya ia bukan menjadi comercial manager melainkan pastoral manager.
Ia sebaiknya juga menguasai manajemen yang utuh sehingga mampu
mengelola permasalahan pastoral dengan tepat sasaran dan menjala
sebanyak mungkin orang untuk keselamatan. Manager macam ini adalah pemimpin yang melayani, seperti yang telah dicontohkan sendiri oleh Tuhan Yesus dan para rasul.
Visi Tentang Gereja Paroki
Pelayanan pastoral teritorial sebenarnya berasal dari tradisi pastor seumur hidup di tanah Eropa abad pertengahan.
Praktek itu didukung oleh zaman agraris yang menuntut teritorial
sebagai basis hidup seseorang. Dulu mata pencaharian seseorang bersumber
pada tanah. Rejeki hidupnya ada di tanah, makin luas tanah, makin
menjamin kehidupan. Kini jaman sudah berubah. Mata pencaharian orang
tidak lagi berbasis pada tanah, melainkan pada apa pun yang memberi
rejeki hidup. Masyarakatnya bukan agraris lagi, melainkan modernis
dengan era digital dan mobilitas pergerakan yang tinggi.
Paroki mesti sedikit atau banyak mengubah mindset, dari pelayanan sakramental teritorial belaka, ke arah pelayanan pastoral personal/kategorial/profesional. Ini berarti, menambahkan
pelayanan pastoral teritorial plus. Orientasi karya pastoral paroki
hendaknya direncanakan berdasarkan pada ajaran ”dogma plus”, yaitu dogma
Gereja plus kenyataan hidup umat. Kalau tujuannya adalah keselamatan
jiwa-jiwa, maka yang mesti menjadi pertimbangan utama adalah jiwa-jiwa
umat. Sama sekali bukan melulu berdasarkan kebiasaan yang yang ada, yang
seringkali terikat pada zamannya. Paroki di pusat kota berbeda dengan
yang berada di pinggiran. Paroki di desa berbeda dengan paroki di
pinggir pantai dll. Paroki tua, dengan umat yang sudah sepuh-sepuh juga
berbeda dengan paroki di kompleks perumahaan baru. Karenanya tidak
mungkin dan tidak perlu dibuat peraturan yang sama, atau seragam yang
berlaku pada semua paroki di seluruh wilayah keuskupan.
Menangani karya pastoral paroki senantiasa memerlukan ketrampilan
managerial. Dewan Paroki dengan ketua Pastor Paroki mesti menemukan
potensi yang ada dan mengembangkan aneka potensi umat semaksimal
mungkin. Menemukan kebutuhan yang real dan kebutuhan ideal sebagai umat
Allah. Memperhitungkan kekuatan dan kelemahan yang ada. Setelah semuanya
itu, merencanakan sesuatu berdasarkan perhitungan tersebut. Meskipun
demikian, harus diakui bahwa dari jaman dulu sampai kini selalu ada yang
tetap misalnya administrasi paroki dan kedudukan paroki itu sendiri.
Di situlah tempat untuk Allah berkarya melalui Roh Kudus yang hadir di
dalam Gereja umat Allah.
Tanggungjawab Gereja pada Orang muda
Siapa Orang Muda Katolik?
Pedoman Pastoral Kaum Muda menyebut Katolik lajang usia 13-35 tahun.
Jika demikian, sebagian besar umat Katolik adalah orang-orang muda.
Mereka adalah orang-orang yang karena usianya belum punya tempat untuk
kiprah di dalam Gereja. Pada umumnya hal ini dianggap sebagai sesuatu
yang biasa, lumrah saja, tanpa perlu diambil tindakan apa pun. Di lain
pihak meskipun, orang-orang tua yang jumlahnya lebih sedikit, namun
merekalah yang sering memegang wewenang di dalam Gereja kita. Akibatnya
orang muda sering hanya menjadi obyek pelayanan Gereja dan bukan subyek
pelayanan. Memang harus diakui bahwa di samping segala kelebihan yang
belum tergali pada diri orang muda, ada segudang permasalahan yang
menghadang yakni aneka masalah psikologis seputar identitas diri maupun
masalah sosio-antropologis sebagai anggota masyarakat moderen dewasa
ini. Demikian sehingga umumnya orang muda belum atau malah tidak sanggup
menentukan dirinya sendiri.
Ketidaksanggupan ini bukan karena mereka bodoh melainkan karena mereka tidak berdaya (powerless)
di tengah kaum senior di sekelilingnya. Mereka tidak bersalah, namun
sering dipersalahkan. Mereka adalah korban sistem masyarakat dunia
dewasa ini, namun sering dituding sebagai pengganggu. Akibatnya mereka
ini bingung bahkan tidak jarang menjadi linglung. Bingung dengan dirinya
sendiri. Bingung dengan orang-orang tua mapan yang juga bingung di
tengah kemajuan zaman ini. Tiada teladan tiada jalan bagi orang-orang
muda tersebut. Karena itu tidak mengherankan kalau berkarya untuk,
berkarya bersama dan demi orang muda janjinya bukan prestasi melainkan frustrasi. Semoga di waktu sekarang, dimulai perubahan justru dari paradigma kita memandang orang muda.
Mengapa Orang Muda ?
Kecuali sisi gelap seperti di atas, orang muda juga punya sisi
terang. Sebagai orang muda, mereka kalah pengalaman (paling tidak
penglamaan) dengan mereka yang tua. Namun justru karena kekurangan
inilah orang muda siap untuk berbuat apa saja demi memperoleh pengalaman
(penglamaan) yang menjadi harta orang tua. Dalam masa pencarian ini,
seringkali orang muda salah langkah, salah pilih, karena salah nilai.
Karena itu orang muda memanggil kita, orang tua untuk mendampingi
mereka. Mendampingi mereka dalam pengenalan nilai-nilai, dalam memilih,
apalagi dalam memperjuangkan nilai-nilai hidup manusia maupun nilai
kristiani. Kalau tidak, orang muda yang amat reseptif atas aneka nilai
ini dan hidup di tengah budaya permisif ini, bisa jadi justru akan makin
bingung. Dan celakanya, mereka sendiri tidak mungkin menolong dirinya
sendiri. Kita, orang tualah yang diundang untuk membantu orang muda
tersebut.
Sisi terang orang muda lainnya ialah bahwa orang-orang muda kita
menyimpan kekuatan besar dalam dan diri dan jiwa mereka. Tenaga orang
muda luar biasa, semangat orang muda ini besar, belum lagi didukung
oleh cita-cita luhur mereka. Semuanya itu andai saja dapat
diintegrasikan pasti dapat menjadi sumber rahmat bagi Gereja dan
masyarakat pada umumnya. Seumpama harta, orang muda adalah harta tak
ternilai bagi Gereja. Namun, memang punya harta saja belum cukup, sebab
masih memerlukan kemampuan untuk menggunakan apalagi mengembangkannya.
Permasalahan Orang Muda
Identitas diri
Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri.
Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang
dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi
permasalahan ini.
Tahun 1992 Keuskupan Agung Jakarta membuat suatu penelitian dengan
hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang
muda:
Orang muda yang ber umur 13-17 tahun, masalah terbesarnya adalah
soal identitas diri. Sedang yang berumus 17-25 tahun umumnya menghadapi
permasalahan menentukan karier. Dan mereka yang berumur 25 tahun.
plus umumnya bergulat dengan masalah perjodohan.
Aktualisasi diri
Kecuali kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas,
orang memerlukan kemudahan dan pendampingan dalam mengaktualisasikan
dirinya. Secara sederhana orang muda butuh waktu dan tempat serta teman
untuk dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal. Orang dewasa
sebetulnya lebih dibutuhkan kehadiran dan keberadaannya lebih sebagai
teman daripada sebagai penasihat.
Pendampingan
Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping
lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas
yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu
atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara
langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri.
Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping.
Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain, maka bila
pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang
muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya
justru dengan aktualisasi dirinya.
Tradisi Pendampingan Kaum Muda:
Sayang bahwa selama ini dunia pendampingan sudah terlanjur salah
kaprah. Kesalahan ini berawal dari kekeliruan konsep pendidikan. Yakni
pendidikan yang berorientasi pada hasil, daripada pada proses.
Pendidikan masih saja mengutamakan pemberian isi, dan kurang memberikan
perhatian pada pembangunan suasana demi kelancaran proses. Seperti
seekor benih ikan yang bermutu, bila hidup di air yang keruh, apalagi
terpolusi, pasti tidak bisa tumbuh dengan baik. “Lebih baik benih ikan
yang kurang bermutu, namun air tempat hidupnya sehat, karena di situ
ikan akan berkembang baik,” demikian kata alm Mgr. Leo Soekoto SJ.
Banyak pendamping dan pendampingan yang lebih menekankan isi daripada
suasananya. Akibatnya menimbulkan frustrasi di kedua belah pihak:
pendamping dan orang yang didampinginya.
Pertumbuhan itu proses bukan tumpukan konsep atau ide. Pendidikan itu
butuh waktu dan tempat dan lebih dari itu butuh hati orang-orang lain
di sekitarnya. Orang muda juga bukan tempat untuk menampung segala ide
dan pengalaman. Orang muda mencoba segala ilmu dan nasihat. Orang muda
tidak butuh nasihat, sebab masalahnya bukan terletak pada kurangnya
pengetahuan, melainkan kurangnya kesempatan dan tempat untuk mengaktualisasikan dirinya, intinya: kurang dipercaya!
Orang muda akan punya pengalaman jika dipercaya. Dalam pengolahan
pengalaman itulah orang muda memerlukan orang tua/ pendamping yang
siap menjadi teman.
Di Gereja Paroki, Apa yang Dapat Kita Buat Bersama Orang Muda?
Orang muda merupakan sumber kekuatan dan kehidupan serta pembaharuan
Gereja. Bila Gereja tidak pandai-pandai menangkap dan memanfaatkan
kekuatan orang muda, dengan cepat Gereja akan mengalami kehancuran.
Minimal, tanpa orang muda, Gereja hanya akan mengalami kemandegan
mungkin malah kemunduran. Dan kalau ini terjadi orang dewasa akan
kehabisan tenaga dan energi dan akan sia-sia. Untuk apa segala
keberhasilan orang dewasa kalau orang muda lari keluar dari Gereja
Katolik.
Secara teoritis dapat dirumuskan demikian:
Di Gereja paroki mesti dikembangkan karya pastoral orang muda
berdasarkan realita orang muda. Artinya, mesti ada data untuk
pengembangan pastoral.
Siapa orang muda yang de facto ada dan datang ke Gereja paroki kita?
Bagaimana umumnya tingkat pendidikan dan kemampuan mereka: SMU, mahasiswa, karyawan?
Bagaimana suasana pada umumnya: pergaulan antar mereka, keakraban antar mereka, mutu pembicaraan mereka dll.
Menurut St Ignatius Loyola, kita mesti mencari pintu masuk ke mereka,
agar kita dapat membawa ke mana kita inginkan. Pintu masuk itu kita
temukan bila kita mengenal mereka dan punya kemauan untuk menemukannya.
Untuk itu kita mesti menyediakan waktu dan memperkuat kemauan dan
bertekun dalam menghadapi aneka kemungkinan. Termasuk dan lebih-lebih
rasa frustrasi dalam setiap usaha pendekatan tersebut. Barang kali
semacam usaha untuk memberi tempat kesempatan dan kepercayaan,
formal maupun informal, perlu terus menerus diusahakan. Dalam hal ini
kita perlu pandai-pandai menciptakan kesempatan kepada orang muda untuk
bertemu, saling mengenal, saling mendukung.
Konkretnya apa?
- Mengenali nama mereka satu demi satu (sehabis perayaan Ekaristi, pagi, hari Minggu), mendengarkan siapa, mengapa ke gereja dll?
- Mengakui keberadaan mereka: Mereka riil ada di dalam Gereja lalu mengajak mereka ini terlibat dalam aneka kehidupan dan kegiatan Gereja.
- Menyediakan suasana, kemudahan untuk mengakui keberadaannya: dengan pengenalan antara orang muda, sewaktu perayaan Ekaristi dan sesudahnya atau membuat acara bersama khusus untuk mereka. Biasanya dengan bungkus MSF (Musik, Sport/Seni, Film/Fun) disukai, juga perjumpaan a la kafe, namun isinya tema-tema ajaran Gereja menanggapi persoalan riil mereka.
- Mendengarkan: persoalan real dan konkret mereka: ulangan, ujian, pacaran, beda agama, dll Mengajak membawa persoalan tersebut dalam perayaan ekaristi. Misalnya, menyapa yang sedang menulis skripsi, yang sedang susah cari kerja.
- Mendampingi: hadir di antara dan bersama acara mereka, hadir dan menunggui kala weekend.
- Menantang orang muda dengan tahap-demi tahap memberi mereka tanggungjawab: menyerahkan kepada mereka untuk membuat acara-acara untuk orang muda: Paskah orang muda, welcome party, kemah remaja, 17 Agustus, operet Natal, Imlek, Valentine’s Day, dll.
- Memberi kebebasan demi tanggungjawab: ide dasar kita pikirkan, dan pelaksanaannya mereka, dengan tetap didampingi: meminta mereka menjadi tim pelaksanaan acara paroki.
- Mempercaya dengan tetap mendampingi: mengenalkan prinsip-prinsip dasar: asal bisa mempertanggungjawabkan, silakan!
- Melibatkan mereka di kancah yang lebih luas, di luar diri mereka: anggota dewan paroki, melaksanakan acara umat; mengusahakan agar orang-orang muda dapat aktif di lektor, Website/Facebook/Twitter/Kaskus Paroki; dll.
Harapan
Semoga fakta-fakta adanya masalah OMK seperti temuan penulis di atas,
segera bisa diatasi bersama-sama di paroki-paroki sebagai tim kerja,
yang melibatkan OMK sendiri. Mari mempercayai orang muda, karena di
tangan merekalah kita mempercayakan masa depan. Semoga OMK kita Bantu
untuk menjawab panggilan Tuhan kepada Yeremia :TUHAN berfirman kepadaku:
“Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau
Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu,
haruslah kausampaikan. (Yer 1:7)
Penulis: Yohanes Dwi Harsanto Pr
Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI, Imam diosesan KAS,
tinggal di Pastoran UNIO Indonesia, Jakarta. Khususnya saya berterima
kasih pada Bp YR Widadaprayitna yang mensahringkan hal ini selama saya
sebagai Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan DIY, belajar dari beliau di
Jogja (2002-2004). Sumber tulisan memang pada refleksi beliau yang
dituangkan di di http://gerejakaummuda.wordpress.com/2009/10/ dan
“Pedoman Pastoral Kaum Muda”, KomKep KWI, 1995.
OMK Cilacap Peduli Bangsa
Sebagai bentuk kepedulian OMK terhadap hidup berbangsa dan bernegara, maka OMK Cilacap yang diketuai oleh Nindya sebagai Ketua OMK Cilacap yang baru, akan mengadakan rangkaian kegiatan. Kegiatan tersebut diawali dengan :
1. LOMBA-LOMBA 17 an
Kegiatan ini dilaksanakan di halaman belakang Gereja. Pada hari Minggu tanggal 12 Agustus 2012. Undangan untuk lomba-lomba ini melalui jalur sekolah-sekolah dan Lingkungan-lingkungan yang ada di Paroki Cilacap. Lomba - Lomba khas Tujuh Belasan masih disenangi oleh anak-anak....Lomba makan Krupuk, Lomba pukul air, Lomba tangkap belut, lomba bola terong dan lain-lain.
Penyambutan Salib IYD
Estafet Salib IYD yang dimulai dari Paroki Kebumen dari tanggal Juni 2012, kemudian diteruskan ke Paroki Gombong, Kroya. Dan pada tanggal 22 Juli 2012 kemarin, OMK Cilacap menerima Estafet Salib IYD dari OMK Kroya. Penyambutan Salib IYD ini dibagi menjadi 3 Acara :
1. Penyambutan OMK Kroya yang membawa Salib IYD
Penyambutan ini dilakukan sebelum Misa dimulai yang diawali dengan serangkaian ceremony dan diiringi dengan "Perkusi Dapoermoe" ( music kreatif dengan ember, galon, tutup panci). OMK Kroya yang membawa Salib IYD berbaris di pintu gerbang Gereja untuk menggunting pita dan balon IYD. kemudian diiringi dengan lagu-lagu untuk mengantar ke teras gereja untuk acara prosesi penyerahan Salib IYD dari OMK Kroya kepada OMK Cilacap.
Kemudian doa bersama dan perarakan salib IYD di bawa ke tempat penyimpanan di Kapel Belakang Gereja.
2. Serah Terima Salib IYD kepada Romo Paroki.
Dalam acara ini dilakaukan di dalam Misa Umat. Diawali dengan Perarakan Romo konselebrasi antara Romo Handi, Pr dan Romo Paroki yaitu Romo Niko, OMI. Setelah sedikit penjelasan tentang Salib IYD dari Rm. Handi, Pr kemudian umat diajak untuk berdiri menyambut Perarakan Salib IYD yang dibawa oleh OMK Kroya. Dalam Perarakan ini di iringi tabuhan gamelan dan penari topeng sebagai cucuk lampah dari OMK Cilacap. Kemudian serah terima dari OMK Kroya kepada Romo Paroki cilacap dan dilanjutkan Misa berjalan seperti biasa. tetapi ada hal yang sangat meriah, dalam perayaan Misa ini diiringi oleh Band Trinity.
3. Ramah tamah
Setelah Misa selesai, para OMK Kroya dan OMK Cilacap berkumpul untuk penyampaian Laporan dan sharing dari OMK Kroya selama 2 minggu setelah mereka menerima estafet dari OMK Gombong.
Kemudian dilanjutkan dengan laporan kegiatan dan keuangan beserta rencana kegiatan selama 2 Minggu setelah menerima Salib IYD.
Langganan:
Postingan (Atom)











