Pages

Pages

.

Profil Gereja

Paroki Cilacap dengan Santo Pelindung Santo Stephanus dapat anda lihat profil Paroki St. Stepahnus disini

Profil Dewan Pastoral Paroki

Dewan Pastoral yang dilantik tanggal 4 Desember 2011 oleh Mgr. Julianus Sunarka, SJ. Disini kiprah pengurus Dewan Pastoral Paroki akan di ulas, silakan klik disini

Dinamika Paroki

Paroki Cilacap terdiri dari 15 Lingkungan dan 4 Stasi. Juga banyak kategorial di Paroki St. Stephanus sebagai bentuk Iman Umat. Dari sini kita dapat melihat dinamika Paroki semakin hidup dengan kegiatan-kegiatan dari umat parokii cilacap.

Artikel

Berisi tentang artikel-artikel Rohani untuk menambah Iman katolik kita

Kirim Artikel

Website Paroki St. Stephanus Cilacap ini akan semakin maju dan dapat menjadi sumber inspirasi umat dan juga bisa menjadi arsip Paroki secara online yang dapat di baca oleh semua umat, karna itu kami mengajak umat atau kategorial dapat terlibat dengan mengisi artikel dengan klik disini.

Misa keluarga bersama ME

Misa keluarga dengan komunitas ME dengan tema "Dipanggil untuk menjadi Gembala" . Misa yang di pimpin oleh Rm. FX.Swibata, MSC dilaksanakan pada : Kamis, 30 Juli 2015 Pkl. 18.00 Wib di Gereja St. Stephanus Cilacap.

LATIHAN SHADANA 4 : MENGUASAI PIKIRAN

MENGUASAI PIKIRAN


Kebanyakan orang mengalami pikiran melayang-layang, selama mengadakan latihan penyadaran. Maka disini saya mau mengatakan sesuatu, sehubungan dengan pikiran menyasar atau melayang-layang itu. Mungkin dapat menolong anda mencegah pikiran yang melayang-layang, denga tidak memejamkan mata, melainkan membukanya sedikit. Cukup terbuka untuk melihat jarak satu meter ke muka. Arahkan pandangan pada suatu titik atau suatu benda. Tetapi janagn memusatkan diri pada titik atau benda itu, berkonsentrasi ata memusatka perhatian khusus padanya.

Ada orang yang sulit berkonsentrasi dengan mata tertutup. Mata tertutup itu seakan-akan merupakan layar putih, dimana pikiran dapat melontarkan macam-macam gagasan, yang menjauhkan orang dari konsentrasi. Maka anjuran untuk membuka mata sedikit, diarahkan pada satu titik, satu meter jauhnya. Coba itu sendiri dan gunakanlah nasehat ini, hanya kalau membantu. Mungkin bagi anda mata terbuka atau tertutup sama saja, membawa pikiran kabur.

Suatu cara lain untuk menghindari pikiran melayang-layang, mau percaya atau tidak, ialah duduk dengan punggung tegak. Sampai sekarang, saya belum menemukan alas an ilmiah untuk itu. Tetapi saya yakin dari pengalaman sendiri dan orang lain, bahwa memang begitu. Sikap yang paling utama untuk ini ialah sila lotus, yang diajarkan kepada para penganut yoga: kedua kaki bersilangan dengan telapak ditumpangkan pada paha berlawanan, serta punggung tegak. Saya mendengar, bahwa orang yang dapat menguasai sikap ini, tidak banyak mengalami kesulitan untuk menguasai pikirandan dapat menggunakan pikiran dengan baik. Maka orang berkata, bahwa sikap ini paling sempurna untuk samadi dan membina konsentrasi.

Kebanyakan anda tidak mempunyai kesabaran dan keberanian cukup untuk mencoba menguasai sikap yang amat sulit, namun juga amat menguntungkan ini. Lalu anda terpaksa puas, duduk tegak di atas kursi yang bersandaran tegak, atau pada pinggiran kursi untuk menjaga punggung tetap tegak. Ini tidak begitu berat seperti nampak sepintas. Sebaliknya, sesudah beberapa waktu anda akan sampai kesimpulan, bahwa punggung melengkung itu jauh lebih tidak enak. Dan anda akan menemukan, bahwa punggung tegak itu amat menguntungkan konsentrasi. Orang yang dapat mengetahui berkata, bahwa sementara guru Zen berjalan-jalan di ruang doa dapat mengerti hanya dengan memperhatikan punggung orang yang bermeditasi, apakah ia mengalami pikiran nyasar atau tidak. Ini saya rasa agak berlebih-lebihan, sebab saya ingat betul akan waktu-waktu, dimana punggung saya sama sekali tidak tegak, tetapi saya tidak mengalami pikiran melayang.

Ada penganjur punggung tegak yang sampai berkata: sebaiknya orang berbaring pada alas yang keras seperti lantai, kalau tidak ada cara lain yang sesuai untuk melatih punggung tegak. Anjuran yang dapat berguna, sejauh itu dapat dilaksanakan, dan baik sekali-sekali dicoba. Keberatan saya hanya ini: berbaring seperti itu membuat orang tertidur dan ini lebih merugikan kontemplasi dari pada pikiran yang melayang-layang.

Mungkin sekali dengan segala usaha untuk mengatasi pikiran melayang-layang dengan memusatkan pandangan mata dan enegakan punggung, anda masih tetap diganggu pikiran kabur. Tidak perlu cemas! Pikiran melayang-layang itu gangguan biasa pada setiap orang yang berusaha untuk mencapai samadi. Perjuangan untuk menguasai pikiran itu lama dan sulit, tetapi patut dicoba, karena sekali tercapai,akan melimpah buahnya. Jadi sungguh-sungguh tidak ada jalan lain kecuali menekuni usaha-usaha dan percaya, bahwa sekali anda berhasil, meskipun nampaknya kebalikan yang dirasa. Saya masih punya satu cara untuk membantu. Sebegitu jauh ini sarana yang paling ampuh untuk mengatasi pikiran menyasar. Saya susun sebagai latihan.

Pejamkan mata atau biarkan setengah terbuka, kalau itu dirasa lebih membantu.
Sekarang awasi setiap gagasan, yang masuk dalam pikiran anda.
Ada dua macam cara menghadapi pemikiran : yang satu itu mengikutinya berputar-putar seperti anak anjing di jalanan, yang mengikuti setiap kali ada sepasang kaki berjalan, entah kemana arahnya.

Cara lain yaitu mengawasi seperti orang berdiri dimuka jendela melihat orang-orang berjalan di luar. Ini cara menguasai gagasan ayng saya anjurkan.

Setelah melakukan ini beberapa waktu, anda harus jadi sadar, bahwa sedang berpikir-pikir. Bahkan dalam hati anda boleh berkata: saya sedang berpikir ……saya sedang berpikir……..atau lebih singkat: pikir……pikir…….pikir…….. untuk menyadari proses berpikir yang berjalan dalam diri anda.

Apabila anda tidak menemukan pikiran lagi dan ingatan menjadi kosong, tunggu muncul pikiran berikut. Tetaplah waspada dan segera setelah ada pikiran muncul, sadarilah itu atau sadari, bahwa anda sedang berpikir.

Lakukan latihan ini selama tiga atau empat menit.

Dalam latihan ini anda heran sampai pada kesimpulan, bahwa setiap kali sadar, bahwa anda sedang berpikir-pikir, semua pikiran cendrung berhenti!

Inilah cara saderhana untuk mengatasi pikiran melayang-layang. Berhentilah sebentar dan sadarilah, bahwa anda sedang mengikuti pikiran, dan pikiran akan berhenti. Gunakan latihan ini, kalau anda terganggu oleh pikiran melayang-layang lebih dari biasa. Hampir tidak mungkin orang tidak terganggu pikirannya, kalau baru mulai masuk bidang kontemplasi. Tetapi banyak pikiran nyasar dapat diatasi dengan menyadarkan pikiran pada tugasnya berkonsentrasi, kalau sedang mengalami gangguan. Latihan ini hanya digunakan kalau pikiran melayang-layang tak ada henti.

Ada pikiran menyasar, berat penuh dengan emosi kuat: cinta, takut, dendam, atau lain. Penyasaran berat dengan emosi tidak mudah dikalahkan dengan latihan seperti tadi. Disini perlu menggunakan metode lain, yang akan saya jelaskan kemudian. Tetapi jau lebih penting, anda menguasai keahlian berkonsentrasi, dan ber kontemplasi begitu rupa, hingga anda tetap tenang menghadapai gangguan semacam ini

Latihan 3 Shadana - Penyadaran Tubuh, Menguasai Pikiran


PENYADARAN TUBUH, MENGUASAI PIKIRAN

Latihan ini sifatnya memperdalam latihan yang mendahului. Latihan sebelumnya dapat anda anggap terlalu amat sederhana, begitu sederhana, hingga rasanya seperti tipuan saja. Tetapi kontemplasi itu memang sederhana. Untuk mencapai kemajuan tidak perlu cara-caranya dipersulit, tetapi justru dijaga tetap sederhana, dan ini malahan dirasa amat sulit oleh kebanyakan orang. Singkirkan rasa bosan. Jauhkan godaan, yang mau mencari-cari barang baru, tetapi usahakanlah pendalaman.

Untuk dapat mengambil manfaat sepenuhnya dari latihan ini dan yang sebelumnya, anda harus melakukannya dalam waktu cukup lama. Saya pernah mengikuti retret budha, dan disitu saya berkanjang tidak kurang dari dua belas sampai empat belas jam tiap hari, hanya memusatkan perhatian pada udara masuk-keluar lewat lubang hidung. Tidak ada selingan, tidak ada kegiatan, tanpa buat gagasan untuk mengisi pikiran! Saya masih ingat akan hari, dimana kita menggunakan waktu dua belas jam atau lebih untuk menyadari semua perasaan, yang dapat ditemukan pada setitik tempat antara kedua lubang hidung dan bibir bagian atas. Kebanyakan kita hanya mengalami rasa kosong selama berjam-jam, dan hanya dengan sabar dan tahan, teteap tekun dalam konsentrasi, akhirnya tempat tubuh kebal ini menunjukan perasaan-perasaan juga.

Apa gunanya ini semua dari segi doa, tanya anda. Satu-satunya jawaban, yang kuberikan pada tahap ini, hanyalah: jangan bertanya. Lakukanlah apa yang dilatihkan kepada anda, dan anda akan menemukan jawaban sendiri. Kenyataan tidak ditemukan dalam kata-kata penjelasan, tetapi dalam tindakan dan pengalaman. Maka sekarang berusaha, dengan percaya dan tabah (dan ini memang akan sangat diperlukan) dan tidak lamalagi anda akan menemukan jawaban dari pengalaman!

Anda kemudian juga akan menolak menjawab pertanyaan orang lain, juga kalau pertanyaan itu nampak praktis. Semua pertanyaan intinya berkata: “Tunjukan kepada saya”. Dan jawaban yang tepat hanya: “Bukalah mata dan lihatlah sendiri”. Saya lebih suka, anda berjalan mengikuti saya mendaki gunung, dan mengalami matahari terbit, dari pada bersusah-susah mau menggambarkan, bagaimana rasanya kalau anda melihat matahari terbit dari puncak gunung. “Mari ikut dan lihat”, kata Yesus kepada dua murid yang bertanya. Amat bijaksana!

Segala keindahan matahari terbit di puncak gunung dan lebih banyak lagi akan anda temui, tersimpan dalam latihan begitu remeh,hanya menyadari perasaan tubuh berjam-jam dan berhari-hari. Saya anjurkan, anda selalu mulai waktu doa dengan latihan ini. Tekuni latihan itu, sampai anda mencapai ketenangan dan keheningan, lalu baru meningkat pada doa, entah bentuk dan macam doa apa biasa anda lakukan. Anda dapat melakukan latihan ini dengan manfaat penuh pada waktu-waktu lain juga, sepanjang hari: pada waktu-waktu yang saying dibuang, seperti kalau anda menunggu datangnya kereta api atau bis, bila anda lelah dan tegang, mau merasa santai sedikit, bila masih ada sisa waktu beberapa menit, dan anda tidak tahu mau apa.

Saya harap waktunya akan tiba, anda mengalami kesegaran dan kegembiraan dengan penyadaran ini, hingga anda tidak mau pindah pada doa lain lagi. Pada waktu itu anda akan berkanjang di dalamnya dan mengalami santai murni, tersembunyi dalam latihan sederhana ini. Kontemplasi semacam ini, kemudian masih akan saya bicarakan.

Sekarang kita meningkat pada latihan berikut: dapat dirumuskan dalam beberapa kalimat, tetapi harus dilatih dan diulangi lagi kerap kali. Dalam kelompok samadi, saya tidak pernah lupa menganjurkan agar orang selalu mulai dengan latihan ini selama beberapa menit, setiap kali kami berkumpul, dan para anggota saya anjurkan menekuni latihan setiap hari selama beberapa menit, sekurang-kurangnya pagi, siang, malam.

Pejamkan mata. Ualngi latihan yang sebelumnya, berpindah-pindah dari bagian satu ke bagian yang lain pada tubuh anda, dan menyadari semua perasaan yang anda jumpai pada setiap bagian. Lakukan ini selama barang lima menit.

Sekarng pilihlah satu bagian kecil pada wajah anda: misalnya dahi, atau pipi, atau dagu. Cobalah sadari setiap perasaan di bagian ini.

Pada permulaan nampaknya itu tidak ada perasaan sama sekali. Kalau ini yang dialami, sebaiknya mengulang latihan sebelumnya lebih dahulu. Lalu kembali pada bagian yang sudah ditentukan, dan terus bertahan ditempat itu, sampai menemukan suatu perasaan, entah betapa lemahnya. Kalau ada perasaan timbul pertahankanlah itu. Mungkin hilang lagi, atau berubah menjadi perasaan yang lain. Mungkin perasaan-perasaan lain tumbuh disekitarnya.

Sadarilah perasaan macam apa yang timbul: seperti semutan, gatal, panas, mengeliat, mengetar, mendebar, membeku………………..

Jika pikiran menyasar, kembalikan dengan sabar pada latihan, segera sesudah anda sadar akan itu.

Saya ingin mengakhiri bab ini dengan menganjurkan latihan serupa untuk waktu di luar doa. Kalau anda berjalan, sadarilah sebentar gerakan kaki anda. Hal ini dapat anda lakukan dimana saja, juga di jalan ramai. Soalnya bukan mengetahui, bahwa kaki anda bergerak, tetapi merasai gerakan kaki anda. Ini akan membuat anda menyadari, menjadi tenang, tenteram. Bahkan ini dapat dijadikan latihan konsentrasi pula, tetapi ini lalu harus dijalankan pada tempat yang aman, dimana anda tidak dilihat orang. Mereka melihat anda bertingkah, tentunya akan mengira, ada apa-apa ini! Ini latihannya:

Sambil berjalan mondar-mandir di kamar atau di gang, anda mulai memperlambat gerak, hingga anda penuh menyadari setiap gerakan kaki anda. Sadarilah gerakan-gerakan berikut: mengangkat kaki kiri……. mau melangkah maju…..kaki kiri menyentuh tanah….. berat tubuh bergeser pada kaki kiri………
Sekarang mengangkat kaki kanan…..melangkah maju menapakkan kaki ke tanah di muka anda ………dan seterusnya.

Untuk membantu konsentrasi anda dapat berkata dalam hati,
Sambil mengankat kaki kiri: “angkat……angkat…..angkat………..”
Dan kalau bergerak maju: “ gerak…………gerak……..gerak…………”
Dan kalau menapak pada tanah: “ tapak………..tapak………tapak………….”

Latihan ini tidak cocok sama sekali, kalau anda sedang tergesa-gesa. Dan cukup satu kali mencoba, anda terus akan mengerti, mengapa saya melarang anda melakukan ini disuatu tempat, dimana anda tidak hanya dilihat orang, yang tidak mau membuat tafsiran apa-apa.

Latihan 2 : PENYADARAN TUBUH


PENYADARAN TUBUH

Ambilah sikap yang santai dan tenang. Pejamkan mata.
Sekarang saya akan minta kepada anda, untuk menyadari perasaan-perasaan tertentu yang anda rasakan pada saat ini, tetapi tidak anda sadari betul…………….

Sadarilah sentuhan baju pada bahu anda ……….. ……………………………………
Sadarilah sentuhan kain pada punggung anda…………………………………………
Sentuhan punggung pada sandaran kursi, tempat duduk anda…….................................
Lalu sadarilah sentuhan tangan satu sama lain, atau seperti terletak di pangkuan anda
Lalu sadarilah paha, atau badan anda yang menekan kursi…………………………….
Sadarilah telapak kaki anda menyentuh sandal, sepatu…………………………………
Sadarilah sikap anda duduk secara benar-benar ………………………………………

Sekali lagi: bahu anda………punggung anda………tangan kanan anda…….tangan kiri anda………...paha anda……….telapak kaki anda……..
Sekali lagi: ……..punggung …….tangan kanan……tanagn kiri……paha kanan……. paha kiri………...telapak kaki kanan…….telapak kaki kiri……..sikap duduk……….
Sekarang anda sendiri berkitar, bergerak dari bagian satu ke bagian yang lain pada tubuh anda. Jangan berhenti lebih lama daripada beberapa detik pada setiap bagian: bahu, punggung, paha,dst. Terus berpindah-pindah dari bagian satu ke bagian yang lain.
Anda boleh berhenti pada bagian- bagian tubuh yang saya sebutkan, atau pada bagian lain menurut kehendak: kepala, tengkuk, dada, perut, …… yang penting ialah bahwa anda merasai perasaan pada setiap bagian, dirasai selama dua detik, lalu terus ganti bagian tubuh lainnya.
Latihan sederhana ini memberi rasa santai pada kebanyakan orang. Dalam kelompok-kelompok, yang saya beri latihan ini untuk pertama kalinya, ada juga orang yang merasa begitu tenang, hingga tertidur!
Musuh utama dalam doa itu ketegangan syaraf. Latihan ini menolong anda untuk mengatasi hal itu. Rumusannya mudah: anda santai, kalau anda mulai memperhatikan rasa, kalau anda menjadi sadar penuh akan perasaan-perasaan tubuh, Akan suara-suara disekitar anda, akan pernafasan anda, sesuatu rasa di dalam mulut.
Terlalu banyak orang hidup dengan kepalanya saja – mereka itu biasanya hanya menyadari pikiran dan angan-angan, yang berkeliaran dalam kepala, dan kurang sekali menyadari kegiatan indera dan rasa. Akibatnya, mereka jarang sekali hidup pada saat sekarang ini. Biasanya mereka selalu ada di masa lampau atau masa mendatang. Ada di masa lalu, menyesali kekeliruan yang sudah, merasa salah karena dosa yang dulu-dulu, membanggakan keberhasilan masa lampau, meresahkan rasa tersinggung yang sudah lampau, disebabkan oleh orang lain. Atau hidup di masa depan, khawatir akan apa yang mungkin menimpa diri atau adanya urusan yang kurang menyenangkan, atau juga kebahagiaan nanti, tibanya peristiwa yang dimimpi-mimpikan.
Mengenangkan masa lampau untuk mengambil manfaat, atau bahkan untuk menikmatinya kembali, dan melihat hari depan, lebih awal untuk menyusun rencana, itu semua berguna, asal kita tidak terlalu lama absen meninggalkan masa sekarang ini, waktu yang sedang kita hadapi. Untuk dapat berhasil dalam doa, mutlak perlu kita mengembangkan kemampuan berkontak dengan masa sekarang dan mau tinggal di situ pula. Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk hidup dalam masa sekarang dari pada keluar dari kepala dan kembali kepada rasa.
Rasailah udara panas atau dingin di sekitar anda. Rasailah angina lembut, yang membelai tubuh anda. Rasailah panas matahari bersentuhan dengan kulit anda. Rasailah jaringan dan panas dingin benda, yang anda pegang ……. dan rasai beda-bedanya semua itu.

Rasai bahwa anda mulai hidup, kalau kembali pada masa sekarang. Sekali anda sudah menguasai cara menyadari lewat rasa, anda akan heran menemukan perubahan, terutama kalau anda termasuk orang, yang kerap merisaukan masa mendatang atau menyesali masa lampau.

Sepatah kata tentang keluar dari kepala: Kepala itu bukan tempat baik untuk berdoa. Bukan tempat jelek untuk mulai doa. Tetapi bila doa anda terlalu lama tetap ada di sana, lambat-laun akan menjadi kering, terasa gersang dan menjemukan. Anda harus belajar keluar dari alam berpikir-pikir dan berbicara, pindah ke alam rasa, sadar, cinta, intuisi. Itulah alam di mana samadi lahir, dan doa menjadi kekuatan yang merubah, sumber sukacita dan damai tidak habis-habisnya.

Mungkin juga ada satu-dua orang, yang selesai menjalankan latihan ini, merasa dirinya tidak menjadi tenang dan santai, melainkan semakin tegang. Apabila hal ini terjadi, beralihlah pada penyadaran ketegangan anda. Perhatikan, bagian tubuh mana menjadi tegang. Perhatikanlah, seperti apa rasa ketegangan itu. Sadarilah bahwa anda menegangkan diri anda sendiri dan perhatikan sekarang bagaimana itu terjadi.

Kalau saya menggunakan kata “perhatikanlah”, itu bukan maksudnya untuk kembali pada refleksi, melainkan pada perasaan dan penyadaran. Saya tidak dapat cukup menekankan, bahwa latihan ini soal merasai, bukan soal berpikir-pikir. Memang ada orang, yang bila disuruh menyadari lengan, kaki atau tangannya, nyatanya tidak menyadarinya, melainkan membuat gambaran anggota tubuh itu dalam pikiran. Mereka tahu tempat anggota itu dalam tubuh dan mereka menyadari pengetahuan ini. Tetapi mereka tidak menyadari dan merasai anggota badan itu sendiri. Di mana orang lain menyadari adanya kaki atau tangan, kesadaran mereka kosong. Yang mereka punyai hanya gambaran anggota tubuh dalam pikiran.

Cara paling cocok untuk mengatasi hal ini (dan untuk memastikan bahwa anda tidak menggantikan perasaan badan dengan gambaran pikiran) sebaiknya anda menyadari perasaan dan bagian-bagian tubuh itu sebanyak-banyaknya, pada bahu, punggung, paha, tangan, kaki. Ini juga akan menolong anda untuk menaruh perhatian terhadap orang, yang tidak bisa merasai anggota tubuhnya, sebab kiranya nanti anda juga akan menemukan, bahwa hanya sebagian kecil dari tubuh anda tidak berperasaan apa-apa. Sebabnya perasaan anda sudah dimatikan, karena begitu lama terus-menerus hidup dengan kepala saja. Permukaan kulit manusia itu penuh dengan reaksi biokemis bermilyar-milyar, semua ini kita namakan perasaan, dan anda sulit untuk menemukan beberapa saja. Anda telah mengebalkan diri untuk tidak merasakan apa-apa – hampir tentu karena pernah mengalami luka atau konflik rasa, yang lama sudah anda lupakan. Apalagi sekarang daya tangkap dalam kesadaran anda, daya konsentrasi untuk memusatkan perhatian masih lemah dan belum berkembang.

Nanti pada waktunya saya akan menjelaskan hubungan latihan ini dengan doa, dan untuk banyak orang, latihan ini sendiri sudah merupakan salah satu bentuk doa, samadi. Sekarang ini cukup latihan ini diberikan sebagai persiapan untuk doa dan kontemplasi, jalan untuk mencapai ketenangan dan keheningan, sebab tanpa itu doa menjadi sukar, bahkan mustahil.

Sekali lagi pejamkan mata. Sadarilah perasaan-perasaan di berbagai bagian tubuh anda.

Yang paling baik: tidak memikirkan bagian-bagian mana dari tubuh anda, seperti “tangan” atau”kaki” atau”punggung”,tetapi hanya berpindah-pindah dari perasaan satu ke perasaan lain, dan tidak memberi nama atau tanda apa-apa pada anggota dan indra, selama anda menyadarinya.

Bila anda didorong untuk bergerak atau merubah sikap duduk, jangan anda mengikutinya. Hanya sadarilah dorongan itu dan rasa sakit yang mungkin timbul pada tubuh anda dan menimbulkan dorongan itu.

Bertahanlah dalam latihan ini beberapa menit. Anda lambat-laun akan merasa keheningan dalam tubuh anda. Jangan sengaja berhenti menikmati keheningan itu! Teruskanlah latihan penyadaran ini dan biar keheningan itu berlangsung terus dengan sendirinya.

Kalau pikiran mulai menyasar, kembalikanlah pada penyadaran perasaan tubuh, berpindah-pindah dari bagian satu ke bagian yang lain. Sampai tubuh menjadi tenang lagi dan pikiran bersama tubuh masuk dalam keheningan, yang membawa damai dan suasana samadi, dekat dengan Tuhan. Tetapi sekali lagi, jangan sengaja berhenti menikmati keheningannya.
Mengapa tidak boleh menikmati keheningan selama mengadakan latihan? Menikmati itu santai dan menyenangkan! Tetapi kalau itu dituruti, ada bahaya anda akan terbius sementara atau memasuki alam kosong, dan tenggelam dalam biusan ini tidak membawa ke arah semadi dan kontemplasi.

Di sini ada semacam hipnose, yang tidak ada hubungannya dengan ketajaman kesadaran atau kontemplasi.

Maka penting sekali, bahwa anda tidak sengaja mau menciptakan rasa diam dan hening dalam diri anda untuk menikmatinya kalau timbul. Yang harus diusahakan justru kesadaran, dan tidak mematikannya dengan pembiusan, meskipun hanya sekedar. Maka meskipun ada keheningan, dan di dalam keheningan, dan di dalam keheningan sendiri, anda harus terus berkanjang dalam latihan kesadaran dan membiarkan keheningan dengan sendirinya berlangsung.

Nanti akan timbul saat-saat, di mana keheningan dan kekosongan menjadi lebih kuat, hinnga tidak memungkinkan usaha atau latihan lebih lanjut dari pihak anda. Di sini sudah bukan anda yang mencari keheningan, tetapi keheningan menguasai dan meliputi diri anda. Kalau ini terjadi, anda boleh menghentikan semua usaha, yang jelas sudah menjadi tidak mungkin lagi, dan menyerah kepada keheningan batin yang menguasai anda: sekarang ini aman dan ada gunanya.

LATIHAN DOA SADHANA


KATA PENGANTAR
Sadhana, yang berarti “jalan”, di sini dikhususkan menjadi “jalan menemukan Tuhan”. Di Roma Pater Tony de Mello, seorang Yesuit asli India, memberikan latihan-latihan doa ini – belum dibukukan pada waktu itu, desember 1974 – maret 1975 – kepada puluhan peserta dari berbagai Negara, setiap pagi sekitar ¾ jam.
Karena tanggapan yang begitu menggembirakan, selain “latihan doa” dalam bahasa inggris, ia masih membuka latihan lain dalam bahasa spanyol, yang ramai dikunjungi juga. Pada waktu itu diusulkan kepada Pater de Mello untuk membukukan latihan- latihan doa itu, dan menerbitkan untuk umum.
Selama beberapa tahun satu dua orang pergi ke Poona ( India ) untuk belajar doa itu di pusat “Sadhana” di bawah bimbingannya. Satu kali Pater de Mello sendiri datang ke Indonesia 10 – 18 oktober 1976, memimpin “latihan doa” di Girisonta untuk kelompok kecil. Sesudah itu masih ada saja orang mengunjungi Istitut “Sadhana” di Poona untuk menimba kekayaan yang disalurkan lewat doa-doa, seperti diajarkan dalam buku ini.
Perhatian dan Permintaan akan doa-doa ini menjadi lebih luas di kalangan umat, karena sikap dan cara dirasa baik dan sesuai bagi kebudayaan timur dan khususnya kebudayaan katolik di Indonesia. Kita masih mencari-cari ekspresi doa yang berisikan saluran murni dari tradisi kristiani Barat-Timur sepanjang jaman, dan diungkapkan dalam cara-cara yang mudah dapat membudaya di lingkungan kita.

Semoga sumbangan Pater de Mello, kelahiran Goa yang berabad-abad bertradisi katolik itu, dapat membuka arah baru untuk menemukan kepribadian kita sendiri di bidang doa.

PENDAHULUAN
Lima belas tahun terakhir ini saya bertugas sebagai pemimpin retret dan pembimbing rohani membantu orang untuk berdoa. Saya mendengar banyak keluhan: orang tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Bagaimanapun mereka berusaha, kelihatan tidak ada kemajuan. Rasanya doa membosankan dan mengecewakan. Saya banyak mendengar pembimbing rohani menyatakan tidak berdaya, kalau sampai pada soal bagaimana mengajar orang berdoa, atau lebih jelasnya, bagaimana mencapai kepuasan dan perkembangan dalam doa.
Hal ini selalu mengherankan saya, sebab saya cukup mudah dapat menolong orang berdoa. Hal ini tidak saya hubungkan melulu dengan karisma, yang saya miliki. Hal ini saya hubungkan dengan beberapa dasar sederhana, yang saya ikuti untuk doa saya sendiri dan untuk membimbing orang lain berdoa. Salah satu dasar menyatakan, bahwa doa itu suatu latihan yang membawa perkembangan dan memberi kepuasan, dan memang banyak kita mencari ini semua dalam doa. Dasar lain menyatakan bahwa doa itu harus lebih dilakukan dengan hati daripada dengan budi. Memang semakin cepat doa bebas dari pemikiran kepala, semakin jadi menyenangkan dan bermanfaat. Kebanyakan Imam dan religius menyamakan doa dengan berpikir-pikir. Itu gagasan mereka.
Seorang rekan Yesuit bercerita kepada saya, bahwa ia menghubungi seorang guru Hindu untuk mendapatkan pengarahan dalam hal doa. Guru itu berkata: Pusatkan perhatinmu pada pernafasan. Rekan saya langsung melakukan itu selama 5 menit. Lalu Guru berkata:“Udara yang anda hirup itu Tuhan. Anda menghirup Tuhan dan menghembuskan –Nya. Sadarilah itu dan bertahanlah dalam kesadaran itu”. Rekan saya dalam pikirannya melakukan penyesuaian teologi sedikit terhadap pernyataan tadi, lalu menjalankan perintah guru: Berjam-jam, hari demi hari dan ia kagum menemukan bahwa berdoa itu dapat menjadi sederhana seperti bernapas saja; menghirup dan menghembuskan udara. Dalam latihan ini ia mengalami pendalaman dan kepuasan, serta mendapatkan santapan rohani, yang tidak pernah ia peroleh selama berjam-jam, bertahun-tahun berdoa.
Latihan-latihan yang saya uraikan dalam buku ini, hampir serupa dengan pengarahan guru hindu, yang sejak itu tidak pernah saya jumpai atau dengar kabarnya lagi. Saya juga mempunyai beberapa pendapat tentang doa, tetapi ini baru akan saya jelaskan bersama dengan latihan-latihannya nanti, bagaimana itu mendasarinya.
Sering latihan-latihan ini saya berikan keepada beberapa kelompok orang, semacam “kelompok doa” atau lebih tepat “kelompok samadi”. Beda dengan anggapan umum, kelompok samadi itu memang mungkin. Memang dalam situasi tertentu,samadi lebih berhasil dilakukan bersama / berkelompok dari pada sendirian / perorangan. Saya tulis latihan-latihan ini dengan bentuk dan bahasa hamper sama seperti yang saya berikan kepada orang dalam kelompok. Kalau anda ingin mengadakan “kelompok samadi” dan mengunakan buku ini sebagai pegangan, anda hanya tinggal mengambil teks ini untuk setiap latihan dibaca perlahan-lahan, dan kerap kali berhenti cukup lama,terutama pada tempat-tempat yang ditandai dengan titik-titik:……………………….

Melulu membaca teks ini keepada orang lain belum cukup untuk menjadi pembimbing kelompok samadi yang baik. Untuk itu anda harus menjadi orang berpengalaman dalam samadi lebih dulu. Anda sendiri harus sudah pernah mengalami hal-hal yang anda bacakan kepada orang lain. Dan anda juga harus memiliki sekedar ketrampilan membimbing orang dalam bidang rohani. Latihan-latihan ini bukannya mengantikan pengalaman pribadi dan kemahiran di bidang rohani, melainkan hanya merupakan langkah pertama, yang niscaya akan membawa manfaat bagi anda dan kelompok. Saya berusaha untuk menghapus latihan-latihan yang memerlukan bimbingan seorang ahli di bidang doa. Dan bila ada bahaya bahwa suatu latihan akan merugikan, saya akan menunjukan hal ini dan memberikan sarana untuk mencegah,
Saya persembahkan buku ini kepada Santa Perawan Maria, yang bagi saya selalu merupakan tokoh samadi atau teladan kontemplasi. Bahkan lebih dari itu, saya yakin, bahwa Ibu inilah yang menjadi Perantara rahmat, yang dianugerahkan kepada saya dan banyak orang lain, yang membimbing dalam doa dan kiranya tanpa Dia tidak akan kita terima.

Latihan 1:
KEKAYAAN DALAM KEHENINGAN
“Keheningan itu wahyu agung” kata Lao-Tse. Kita bias memikirkan Kitab Suci sebagai wahyu Tuhan. Dan memang demikian!
Saya sekarang ingin anda dapat menemukan wahyu yang tersimpan dalam keheningan. Untuk meresapi wahyu, yang datang lewat Kitab Suci, anda harus membuka hati terhadap Kitab Suci. Untuk meresapi wahyu, yang datang lewat keheningan, anda harus mencapai keheningan lebih dahulu. Dan ini tidak mudah. Marilah kita mencoba ini dalam latihan berikut:
Saya ingin anda masing-masing mengambil sikap yang sesuai.
Pejamkan mata.
Sekarang saya mengajak anda untuk hening-diam selama sepuluh menit.
Pertama-tama anda mencapai keheningan, keheningan yang mutlak menyeluruh, meliputi budi dan hati. Kalau sudah mencapai ini, anda membuka diri terhadap apa yang datang lewat “pewahyuan”(penyingkapan)
Sesudah sepuluh menit saya akan mempersilahkan anda membuka mata, dan bila rela, berbagi-rasa dengan kita: apa yang telah anda lakukan dan anda alami selama sepuluh menit itu.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Dalam berbagi rasa dengan kita semua tentang apa yang anda lakukan dan alami, jelaskan kepada kita, bagaimana anda berusaha mencapai keheningan dan bagaimana hasilnya.
Uraikan keheningan itu sedapatnya. Ceritakan, apa yang anda alami dalam keheningan itu. Ceritakan apa saja yang masuk dalam pikiran dan perasaan selama latihan ini.

Pengalaman orang yang mencoba latihan ini amat berbeda-beda. Kebanyakan orang menemukan dengan terkejut, bahwa keheningan itu sesuatu yang mereka tidak biasa. Bahwa apa pun yang mereka coba, mereka tidak mampu menghentikan pikiran yang terus melayang-layang atau meredakan gejolak emosi yang mereka rasai di dalam hati. Ada orang lain yang merasa sudah mendekati batas keheningan, lalu mereka mengalami semacam panik, kemudian mundur. Keheningan itu kadang-kadang menakutkan.
Tidak perlu putus asa. Bahkan pikiran yang melayang-layang itu menyingkapkan sesuatu, bukan? Suatu wahyu! Kenyataan, bahwa pikiran anda melayang-layang, bukankah itu menyingkapkan (mewahyukan) sesuatu tentang diri anda? Tidak cukup, menyadari hal ini! Anda harus mengambil waktu untuk mengalami pikiran melayang-layang. Dan bagaimana jalannya pikiran melayang-layang, itu sendiri mengungkapkan banyak juga. Dan ada sesuatu yang menarik bagi anda. Kenyataan, bahwa anda sadar akan pikiran melayang-layang atau akan gejolak di dalam batin atau sadar akan ketidak mampuan anda untuk menghentikannya,semua itu menunjukan bahwa ada suatu lapisan keheningan tipis dalam diri anda, namun sekurang-kurangnya cukup untuk menyadari ini semua!
Sekali lagi pejamkanlah mata anda dan sadarilah pikiran anda yang melayang-layang …………. Selama dua menit saja……………………………………………………
Sekarang rasailah keheningan, yang memungkinkan anda menyadari pikiran yang melayang-layang itu tadi.
Itulah keheningan tipis sekali, yang ada dalam diri anda; itu hendak kita bangun sepanjang latihan-latihan, yang akan menyusul ini. Dengan perkembangannya, keheningan akan menyingkapkan lebih banyak lagi tentang diri pribadi anda. Atau lebih tepat, keheningan akan menyingkapkan diri anda kepada anda sendiri. Itulah pewahyuan yang pertama, “diri anda sendiri”. Dan dalam dan lewat pewahyuan ini anda akan mencapai hal-hal yang dengan uang tak terbeli, hal seperti kebijaksanaan dan kedamaian, kegembiraan dan……………………..TUHAN.
Untuk mencapai hal-hal yang tak ternilai harganya ini tidak cukup anda berefleksi, berbicara, bertukar pendapat. Yang diperlukan itu usaha. Mulailah usaha itu sekarang ini juga.
Pejamkan mata anda. Carilah keheningan dalam waktu lima menit lagi. Pada akhir latihan amatilah , apakah kali ini usaha anda lebih berhasil atau kurang.
Amatilah, apa keheningan menyingkapkan sesuatu kepada anda, yang tadi tidak anda perhatikan.
Jangan mencari-cari, sesuatu yang serem akan mulai tersingkap dalam keheningan – terang, ilham, ilmu. Malahan jangan mencari sama sekali. Sebaiknya anda membatasi diri dengan mengamati .
Tampunglah setiap hal, yang timbul dalam kesadaran anda : setiap hal, bagaimanapun biasa dan sederhana, itu menjadi pewahyuan bagi anda. Pewhyuan yang anda terima itu mungkin hanya berupa tangan yang berkeringat, dorongan untuk merubah sikap, atau kekhawatiran akan kesehatan anda. Tidak perduli! Yang penting ialah, bahwa anda menjadi sadar akan hal itu. Isi kesadaran anda itu kurang penting dari pada mutu kesadaaran anda. Kalau mutu membaik, keheningan anda menjadi lebih dalam. Dan kalau keheningan anda menjadi lebih dalam, anda akan mengalami perubahan. Dan anda dengan gembira akan menemukan, bahwa pewahyuan itu bukan pengetahuan. Pewahyuan itu kekuasaan: kekuatan gaib yang membawa perubahan.

(Bersambung Latihan berikutnya....)

Tips Doa St. Teresia Avila

Setelah mengetahui sedikit banyak tentang kehidupan beberapa Santo Santa, saya semakin kagum kepada rahmat yang Tuhan Yesus berikan pada setiap orang, juga kepada saya dan anda, yaitu rahmatNya itu unik bagi setiap orang.

RahmatNya menyempurnakan kodrat. RahmatNya akan melengkapi segala kelemahan dan kelebihan manusia agar manusia itu dapat menjadi lebih dekat kepadaNya. Cara Roh Kudus bekerja pada orang pendiam akan berbeda dengan cara kerjaNya pada orang yang suka heboh, juga akan beda bagi orang seperti anda dan saya.

Sungguh, seperti seorang Bapa di dunia yang sayang pada anaknya, demikian juga Ia, Bapa kita yang ada di surga juga ingin dekat dan selalu mencintai anak-anakNya.


Kagum dengan karya Roh Kudus dalam St. Theresia Avila
Saya melihat ada kelemahan yang Roh Kudus perbaiki dalam kehidupan seorang Santa ini, juga dalam karya tentang cara berdoa (Puri Batin) saya melihat Roh Kudus memberikan inspirasi sesuai dengan kodrat Santa yang berasal dari keluarga bangsawan yang akrab dengan yang namanya puri.

Cara berdoa yang sungguh luar biasa dari Santa kita ini adalah ada 3 hal yang harus kita sadari saat berdoa:

1. Sadar sedang berdoa
Seringkali kita berdoa tanpa hati, cepat sekali kata-katanya dan tanpa bobot. Doa rosario full cuman 15 menit, wah...ngebut tuh...atau Doa Bapa Kami 10 detik... saat mengucapkan: "Bapa Kami yang ada di surga dimuliakanlah namaMu" dst tanpa arti

2. Sadar pada siapa kita berdoa
Kita sedang berbicara pada Allah Bapa yang sangat mencintai kita. Jadi saat kita mengucapkan kata "Bapa", bayangkanlah Ia ada di depan kita, memandang kita dengan cintaNya. Ia melihat kedalaman hati kita dan kita mempersembahkan hati kita kepadaNya yang selalu menerima dan mencintai kita apa adanya.

3. Sadar kita ini berdosa dan selalu butuh kerahimanNya.
Dengan kesadaran ini, akan membuat hati kita menjadi berkobar-kobar untuk terus menantikanNya setiap saat karena Ia adalah Allah yang maharahim yang tidak pernah menolak hati yang remuk redam.

Ketika saya mendengarkan penjelasan ini, hati saya sungguh bersukacita dan bersyukur akan rahmatNya dalam kehidupan ini.

Bila anda rindu untuk memperoleh kemenangan atas masalah2 anda, bila anda rindu untuk mempunyai cinta yang menyala kepada Tuhan Yesus Kristus, mari kita belajar dari St. Theresia Avila tentang cara berdoa diatas dan mempraktekkannya.

Jadi untuk praktek cara doa diatas (misal mau doa Bapa Kami).... ingat kata kuncinya :
sedang apa, pada siapa, siapa saya

"Sedang apa?" sedang berdoa, ingatlah anda sedang berdoa
"Pada siapa?" pada Bapa yang mengasihi anda
"Siapa saya?" saya berdosa butuh kerahimanNya

dengan 3 kesadaran tadi kita mulai ucapkan: "Bapa kami... dst"

Catatan: Kesadaran diatas itu membantu kita untuk lebih fokus & mencintaiNya saat berdoa.
Doa bukanlah banyak berpikir, tetapi banyak mencinta (St Theresia Avila)

Bagaimana bila ada pelanturan?
Jangan dilawan dengan keras atau marah atau jengkel, tapi tersenyumlah karna itu memang kelemahan kita manusia. Abaikan pelanturan, langsung kembali lagi ke doa anda yang semula.

Selamat berdoa, bila sudah kuat, kuatkan juga saudara-saudara yang lain.

DOWNLOAD LAGU