LATIHAN SHADANA 4 : MENGUASAI PIKIRAN

LATIHAN SHADANA 4 : MENGUASAI PIKIRAN

MENGUASAI PIKIRAN


Kebanyakan orang mengalami pikiran melayang-layang, selama mengadakan latihan penyadaran. Maka disini saya mau mengatakan sesuatu, sehubungan dengan pikiran menyasar atau melayang-layang itu. Mungkin dapat menolong anda mencegah pikiran yang melayang-layang, denga tidak memejamkan mata, melainkan membukanya sedikit. Cukup terbuka untuk melihat jarak satu meter ke muka. Arahkan pandangan pada suatu titik atau suatu benda. Tetapi janagn memusatkan diri pada titik atau benda itu, berkonsentrasi ata memusatka perhatian khusus padanya.

Ada orang yang sulit berkonsentrasi dengan mata tertutup. Mata tertutup itu seakan-akan merupakan layar putih, dimana pikiran dapat melontarkan macam-macam gagasan, yang menjauhkan orang dari konsentrasi. Maka anjuran untuk membuka mata sedikit, diarahkan pada satu titik, satu meter jauhnya. Coba itu sendiri dan gunakanlah nasehat ini, hanya kalau membantu. Mungkin bagi anda mata terbuka atau tertutup sama saja, membawa pikiran kabur.

Suatu cara lain untuk menghindari pikiran melayang-layang, mau percaya atau tidak, ialah duduk dengan punggung tegak. Sampai sekarang, saya belum menemukan alas an ilmiah untuk itu. Tetapi saya yakin dari pengalaman sendiri dan orang lain, bahwa memang begitu. Sikap yang paling utama untuk ini ialah sila lotus, yang diajarkan kepada para penganut yoga: kedua kaki bersilangan dengan telapak ditumpangkan pada paha berlawanan, serta punggung tegak. Saya mendengar, bahwa orang yang dapat menguasai sikap ini, tidak banyak mengalami kesulitan untuk menguasai pikirandan dapat menggunakan pikiran dengan baik. Maka orang berkata, bahwa sikap ini paling sempurna untuk samadi dan membina konsentrasi.

Kebanyakan anda tidak mempunyai kesabaran dan keberanian cukup untuk mencoba menguasai sikap yang amat sulit, namun juga amat menguntungkan ini. Lalu anda terpaksa puas, duduk tegak di atas kursi yang bersandaran tegak, atau pada pinggiran kursi untuk menjaga punggung tetap tegak. Ini tidak begitu berat seperti nampak sepintas. Sebaliknya, sesudah beberapa waktu anda akan sampai kesimpulan, bahwa punggung melengkung itu jauh lebih tidak enak. Dan anda akan menemukan, bahwa punggung tegak itu amat menguntungkan konsentrasi. Orang yang dapat mengetahui berkata, bahwa sementara guru Zen berjalan-jalan di ruang doa dapat mengerti hanya dengan memperhatikan punggung orang yang bermeditasi, apakah ia mengalami pikiran nyasar atau tidak. Ini saya rasa agak berlebih-lebihan, sebab saya ingat betul akan waktu-waktu, dimana punggung saya sama sekali tidak tegak, tetapi saya tidak mengalami pikiran melayang.

Ada penganjur punggung tegak yang sampai berkata: sebaiknya orang berbaring pada alas yang keras seperti lantai, kalau tidak ada cara lain yang sesuai untuk melatih punggung tegak. Anjuran yang dapat berguna, sejauh itu dapat dilaksanakan, dan baik sekali-sekali dicoba. Keberatan saya hanya ini: berbaring seperti itu membuat orang tertidur dan ini lebih merugikan kontemplasi dari pada pikiran yang melayang-layang.

Mungkin sekali dengan segala usaha untuk mengatasi pikiran melayang-layang dengan memusatkan pandangan mata dan enegakan punggung, anda masih tetap diganggu pikiran kabur. Tidak perlu cemas! Pikiran melayang-layang itu gangguan biasa pada setiap orang yang berusaha untuk mencapai samadi. Perjuangan untuk menguasai pikiran itu lama dan sulit, tetapi patut dicoba, karena sekali tercapai,akan melimpah buahnya. Jadi sungguh-sungguh tidak ada jalan lain kecuali menekuni usaha-usaha dan percaya, bahwa sekali anda berhasil, meskipun nampaknya kebalikan yang dirasa. Saya masih punya satu cara untuk membantu. Sebegitu jauh ini sarana yang paling ampuh untuk mengatasi pikiran menyasar. Saya susun sebagai latihan.

Pejamkan mata atau biarkan setengah terbuka, kalau itu dirasa lebih membantu.
Sekarang awasi setiap gagasan, yang masuk dalam pikiran anda.
Ada dua macam cara menghadapi pemikiran : yang satu itu mengikutinya berputar-putar seperti anak anjing di jalanan, yang mengikuti setiap kali ada sepasang kaki berjalan, entah kemana arahnya.

Cara lain yaitu mengawasi seperti orang berdiri dimuka jendela melihat orang-orang berjalan di luar. Ini cara menguasai gagasan ayng saya anjurkan.

Setelah melakukan ini beberapa waktu, anda harus jadi sadar, bahwa sedang berpikir-pikir. Bahkan dalam hati anda boleh berkata: saya sedang berpikir ……saya sedang berpikir……..atau lebih singkat: pikir……pikir…….pikir…….. untuk menyadari proses berpikir yang berjalan dalam diri anda.

Apabila anda tidak menemukan pikiran lagi dan ingatan menjadi kosong, tunggu muncul pikiran berikut. Tetaplah waspada dan segera setelah ada pikiran muncul, sadarilah itu atau sadari, bahwa anda sedang berpikir.

Lakukan latihan ini selama tiga atau empat menit.

Dalam latihan ini anda heran sampai pada kesimpulan, bahwa setiap kali sadar, bahwa anda sedang berpikir-pikir, semua pikiran cendrung berhenti!

Inilah cara saderhana untuk mengatasi pikiran melayang-layang. Berhentilah sebentar dan sadarilah, bahwa anda sedang mengikuti pikiran, dan pikiran akan berhenti. Gunakan latihan ini, kalau anda terganggu oleh pikiran melayang-layang lebih dari biasa. Hampir tidak mungkin orang tidak terganggu pikirannya, kalau baru mulai masuk bidang kontemplasi. Tetapi banyak pikiran nyasar dapat diatasi dengan menyadarkan pikiran pada tugasnya berkonsentrasi, kalau sedang mengalami gangguan. Latihan ini hanya digunakan kalau pikiran melayang-layang tak ada henti.

Ada pikiran menyasar, berat penuh dengan emosi kuat: cinta, takut, dendam, atau lain. Penyasaran berat dengan emosi tidak mudah dikalahkan dengan latihan seperti tadi. Disini perlu menggunakan metode lain, yang akan saya jelaskan kemudian. Tetapi jau lebih penting, anda menguasai keahlian berkonsentrasi, dan ber kontemplasi begitu rupa, hingga anda tetap tenang menghadapai gangguan semacam ini
Latihan 3 Shadana - Penyadaran Tubuh, Menguasai Pikiran

Latihan 3 Shadana - Penyadaran Tubuh, Menguasai Pikiran


PENYADARAN TUBUH, MENGUASAI PIKIRAN

Latihan ini sifatnya memperdalam latihan yang mendahului. Latihan sebelumnya dapat anda anggap terlalu amat sederhana, begitu sederhana, hingga rasanya seperti tipuan saja. Tetapi kontemplasi itu memang sederhana. Untuk mencapai kemajuan tidak perlu cara-caranya dipersulit, tetapi justru dijaga tetap sederhana, dan ini malahan dirasa amat sulit oleh kebanyakan orang. Singkirkan rasa bosan. Jauhkan godaan, yang mau mencari-cari barang baru, tetapi usahakanlah pendalaman.

Untuk dapat mengambil manfaat sepenuhnya dari latihan ini dan yang sebelumnya, anda harus melakukannya dalam waktu cukup lama. Saya pernah mengikuti retret budha, dan disitu saya berkanjang tidak kurang dari dua belas sampai empat belas jam tiap hari, hanya memusatkan perhatian pada udara masuk-keluar lewat lubang hidung. Tidak ada selingan, tidak ada kegiatan, tanpa buat gagasan untuk mengisi pikiran! Saya masih ingat akan hari, dimana kita menggunakan waktu dua belas jam atau lebih untuk menyadari semua perasaan, yang dapat ditemukan pada setitik tempat antara kedua lubang hidung dan bibir bagian atas. Kebanyakan kita hanya mengalami rasa kosong selama berjam-jam, dan hanya dengan sabar dan tahan, teteap tekun dalam konsentrasi, akhirnya tempat tubuh kebal ini menunjukan perasaan-perasaan juga.

Apa gunanya ini semua dari segi doa, tanya anda. Satu-satunya jawaban, yang kuberikan pada tahap ini, hanyalah: jangan bertanya. Lakukanlah apa yang dilatihkan kepada anda, dan anda akan menemukan jawaban sendiri. Kenyataan tidak ditemukan dalam kata-kata penjelasan, tetapi dalam tindakan dan pengalaman. Maka sekarang berusaha, dengan percaya dan tabah (dan ini memang akan sangat diperlukan) dan tidak lamalagi anda akan menemukan jawaban dari pengalaman!

Anda kemudian juga akan menolak menjawab pertanyaan orang lain, juga kalau pertanyaan itu nampak praktis. Semua pertanyaan intinya berkata: “Tunjukan kepada saya”. Dan jawaban yang tepat hanya: “Bukalah mata dan lihatlah sendiri”. Saya lebih suka, anda berjalan mengikuti saya mendaki gunung, dan mengalami matahari terbit, dari pada bersusah-susah mau menggambarkan, bagaimana rasanya kalau anda melihat matahari terbit dari puncak gunung. “Mari ikut dan lihat”, kata Yesus kepada dua murid yang bertanya. Amat bijaksana!

Segala keindahan matahari terbit di puncak gunung dan lebih banyak lagi akan anda temui, tersimpan dalam latihan begitu remeh,hanya menyadari perasaan tubuh berjam-jam dan berhari-hari. Saya anjurkan, anda selalu mulai waktu doa dengan latihan ini. Tekuni latihan itu, sampai anda mencapai ketenangan dan keheningan, lalu baru meningkat pada doa, entah bentuk dan macam doa apa biasa anda lakukan. Anda dapat melakukan latihan ini dengan manfaat penuh pada waktu-waktu lain juga, sepanjang hari: pada waktu-waktu yang saying dibuang, seperti kalau anda menunggu datangnya kereta api atau bis, bila anda lelah dan tegang, mau merasa santai sedikit, bila masih ada sisa waktu beberapa menit, dan anda tidak tahu mau apa.

Saya harap waktunya akan tiba, anda mengalami kesegaran dan kegembiraan dengan penyadaran ini, hingga anda tidak mau pindah pada doa lain lagi. Pada waktu itu anda akan berkanjang di dalamnya dan mengalami santai murni, tersembunyi dalam latihan sederhana ini. Kontemplasi semacam ini, kemudian masih akan saya bicarakan.

Sekarang kita meningkat pada latihan berikut: dapat dirumuskan dalam beberapa kalimat, tetapi harus dilatih dan diulangi lagi kerap kali. Dalam kelompok samadi, saya tidak pernah lupa menganjurkan agar orang selalu mulai dengan latihan ini selama beberapa menit, setiap kali kami berkumpul, dan para anggota saya anjurkan menekuni latihan setiap hari selama beberapa menit, sekurang-kurangnya pagi, siang, malam.

Pejamkan mata. Ualngi latihan yang sebelumnya, berpindah-pindah dari bagian satu ke bagian yang lain pada tubuh anda, dan menyadari semua perasaan yang anda jumpai pada setiap bagian. Lakukan ini selama barang lima menit.

Sekarng pilihlah satu bagian kecil pada wajah anda: misalnya dahi, atau pipi, atau dagu. Cobalah sadari setiap perasaan di bagian ini.

Pada permulaan nampaknya itu tidak ada perasaan sama sekali. Kalau ini yang dialami, sebaiknya mengulang latihan sebelumnya lebih dahulu. Lalu kembali pada bagian yang sudah ditentukan, dan terus bertahan ditempat itu, sampai menemukan suatu perasaan, entah betapa lemahnya. Kalau ada perasaan timbul pertahankanlah itu. Mungkin hilang lagi, atau berubah menjadi perasaan yang lain. Mungkin perasaan-perasaan lain tumbuh disekitarnya.

Sadarilah perasaan macam apa yang timbul: seperti semutan, gatal, panas, mengeliat, mengetar, mendebar, membeku………………..

Jika pikiran menyasar, kembalikan dengan sabar pada latihan, segera sesudah anda sadar akan itu.

Saya ingin mengakhiri bab ini dengan menganjurkan latihan serupa untuk waktu di luar doa. Kalau anda berjalan, sadarilah sebentar gerakan kaki anda. Hal ini dapat anda lakukan dimana saja, juga di jalan ramai. Soalnya bukan mengetahui, bahwa kaki anda bergerak, tetapi merasai gerakan kaki anda. Ini akan membuat anda menyadari, menjadi tenang, tenteram. Bahkan ini dapat dijadikan latihan konsentrasi pula, tetapi ini lalu harus dijalankan pada tempat yang aman, dimana anda tidak dilihat orang. Mereka melihat anda bertingkah, tentunya akan mengira, ada apa-apa ini! Ini latihannya:

Sambil berjalan mondar-mandir di kamar atau di gang, anda mulai memperlambat gerak, hingga anda penuh menyadari setiap gerakan kaki anda. Sadarilah gerakan-gerakan berikut: mengangkat kaki kiri……. mau melangkah maju…..kaki kiri menyentuh tanah….. berat tubuh bergeser pada kaki kiri………
Sekarang mengangkat kaki kanan…..melangkah maju menapakkan kaki ke tanah di muka anda ………dan seterusnya.

Untuk membantu konsentrasi anda dapat berkata dalam hati,
Sambil mengankat kaki kiri: “angkat……angkat…..angkat………..”
Dan kalau bergerak maju: “ gerak…………gerak……..gerak…………”
Dan kalau menapak pada tanah: “ tapak………..tapak………tapak………….”

Latihan ini tidak cocok sama sekali, kalau anda sedang tergesa-gesa. Dan cukup satu kali mencoba, anda terus akan mengerti, mengapa saya melarang anda melakukan ini disuatu tempat, dimana anda tidak hanya dilihat orang, yang tidak mau membuat tafsiran apa-apa.
Latihan 2 : PENYADARAN TUBUH

Latihan 2 : PENYADARAN TUBUH


PENYADARAN TUBUH

Ambilah sikap yang santai dan tenang. Pejamkan mata.
Sekarang saya akan minta kepada anda, untuk menyadari perasaan-perasaan tertentu yang anda rasakan pada saat ini, tetapi tidak anda sadari betul…………….

Sadarilah sentuhan baju pada bahu anda ……….. ……………………………………
Sadarilah sentuhan kain pada punggung anda…………………………………………
Sentuhan punggung pada sandaran kursi, tempat duduk anda…….................................
Lalu sadarilah sentuhan tangan satu sama lain, atau seperti terletak di pangkuan anda
Lalu sadarilah paha, atau badan anda yang menekan kursi…………………………….
Sadarilah telapak kaki anda menyentuh sandal, sepatu…………………………………
Sadarilah sikap anda duduk secara benar-benar ………………………………………

Sekali lagi: bahu anda………punggung anda………tangan kanan anda…….tangan kiri anda………...paha anda……….telapak kaki anda……..
Sekali lagi: ……..punggung …….tangan kanan……tanagn kiri……paha kanan……. paha kiri………...telapak kaki kanan…….telapak kaki kiri……..sikap duduk……….
Sekarang anda sendiri berkitar, bergerak dari bagian satu ke bagian yang lain pada tubuh anda. Jangan berhenti lebih lama daripada beberapa detik pada setiap bagian: bahu, punggung, paha,dst. Terus berpindah-pindah dari bagian satu ke bagian yang lain.
Anda boleh berhenti pada bagian- bagian tubuh yang saya sebutkan, atau pada bagian lain menurut kehendak: kepala, tengkuk, dada, perut, …… yang penting ialah bahwa anda merasai perasaan pada setiap bagian, dirasai selama dua detik, lalu terus ganti bagian tubuh lainnya.
Latihan sederhana ini memberi rasa santai pada kebanyakan orang. Dalam kelompok-kelompok, yang saya beri latihan ini untuk pertama kalinya, ada juga orang yang merasa begitu tenang, hingga tertidur!
Musuh utama dalam doa itu ketegangan syaraf. Latihan ini menolong anda untuk mengatasi hal itu. Rumusannya mudah: anda santai, kalau anda mulai memperhatikan rasa, kalau anda menjadi sadar penuh akan perasaan-perasaan tubuh, Akan suara-suara disekitar anda, akan pernafasan anda, sesuatu rasa di dalam mulut.
Terlalu banyak orang hidup dengan kepalanya saja – mereka itu biasanya hanya menyadari pikiran dan angan-angan, yang berkeliaran dalam kepala, dan kurang sekali menyadari kegiatan indera dan rasa. Akibatnya, mereka jarang sekali hidup pada saat sekarang ini. Biasanya mereka selalu ada di masa lampau atau masa mendatang. Ada di masa lalu, menyesali kekeliruan yang sudah, merasa salah karena dosa yang dulu-dulu, membanggakan keberhasilan masa lampau, meresahkan rasa tersinggung yang sudah lampau, disebabkan oleh orang lain. Atau hidup di masa depan, khawatir akan apa yang mungkin menimpa diri atau adanya urusan yang kurang menyenangkan, atau juga kebahagiaan nanti, tibanya peristiwa yang dimimpi-mimpikan.
Mengenangkan masa lampau untuk mengambil manfaat, atau bahkan untuk menikmatinya kembali, dan melihat hari depan, lebih awal untuk menyusun rencana, itu semua berguna, asal kita tidak terlalu lama absen meninggalkan masa sekarang ini, waktu yang sedang kita hadapi. Untuk dapat berhasil dalam doa, mutlak perlu kita mengembangkan kemampuan berkontak dengan masa sekarang dan mau tinggal di situ pula. Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk hidup dalam masa sekarang dari pada keluar dari kepala dan kembali kepada rasa.
Rasailah udara panas atau dingin di sekitar anda. Rasailah angina lembut, yang membelai tubuh anda. Rasailah panas matahari bersentuhan dengan kulit anda. Rasailah jaringan dan panas dingin benda, yang anda pegang ……. dan rasai beda-bedanya semua itu.

Rasai bahwa anda mulai hidup, kalau kembali pada masa sekarang. Sekali anda sudah menguasai cara menyadari lewat rasa, anda akan heran menemukan perubahan, terutama kalau anda termasuk orang, yang kerap merisaukan masa mendatang atau menyesali masa lampau.

Sepatah kata tentang keluar dari kepala: Kepala itu bukan tempat baik untuk berdoa. Bukan tempat jelek untuk mulai doa. Tetapi bila doa anda terlalu lama tetap ada di sana, lambat-laun akan menjadi kering, terasa gersang dan menjemukan. Anda harus belajar keluar dari alam berpikir-pikir dan berbicara, pindah ke alam rasa, sadar, cinta, intuisi. Itulah alam di mana samadi lahir, dan doa menjadi kekuatan yang merubah, sumber sukacita dan damai tidak habis-habisnya.

Mungkin juga ada satu-dua orang, yang selesai menjalankan latihan ini, merasa dirinya tidak menjadi tenang dan santai, melainkan semakin tegang. Apabila hal ini terjadi, beralihlah pada penyadaran ketegangan anda. Perhatikan, bagian tubuh mana menjadi tegang. Perhatikanlah, seperti apa rasa ketegangan itu. Sadarilah bahwa anda menegangkan diri anda sendiri dan perhatikan sekarang bagaimana itu terjadi.

Kalau saya menggunakan kata “perhatikanlah”, itu bukan maksudnya untuk kembali pada refleksi, melainkan pada perasaan dan penyadaran. Saya tidak dapat cukup menekankan, bahwa latihan ini soal merasai, bukan soal berpikir-pikir. Memang ada orang, yang bila disuruh menyadari lengan, kaki atau tangannya, nyatanya tidak menyadarinya, melainkan membuat gambaran anggota tubuh itu dalam pikiran. Mereka tahu tempat anggota itu dalam tubuh dan mereka menyadari pengetahuan ini. Tetapi mereka tidak menyadari dan merasai anggota badan itu sendiri. Di mana orang lain menyadari adanya kaki atau tangan, kesadaran mereka kosong. Yang mereka punyai hanya gambaran anggota tubuh dalam pikiran.

Cara paling cocok untuk mengatasi hal ini (dan untuk memastikan bahwa anda tidak menggantikan perasaan badan dengan gambaran pikiran) sebaiknya anda menyadari perasaan dan bagian-bagian tubuh itu sebanyak-banyaknya, pada bahu, punggung, paha, tangan, kaki. Ini juga akan menolong anda untuk menaruh perhatian terhadap orang, yang tidak bisa merasai anggota tubuhnya, sebab kiranya nanti anda juga akan menemukan, bahwa hanya sebagian kecil dari tubuh anda tidak berperasaan apa-apa. Sebabnya perasaan anda sudah dimatikan, karena begitu lama terus-menerus hidup dengan kepala saja. Permukaan kulit manusia itu penuh dengan reaksi biokemis bermilyar-milyar, semua ini kita namakan perasaan, dan anda sulit untuk menemukan beberapa saja. Anda telah mengebalkan diri untuk tidak merasakan apa-apa – hampir tentu karena pernah mengalami luka atau konflik rasa, yang lama sudah anda lupakan. Apalagi sekarang daya tangkap dalam kesadaran anda, daya konsentrasi untuk memusatkan perhatian masih lemah dan belum berkembang.

Nanti pada waktunya saya akan menjelaskan hubungan latihan ini dengan doa, dan untuk banyak orang, latihan ini sendiri sudah merupakan salah satu bentuk doa, samadi. Sekarang ini cukup latihan ini diberikan sebagai persiapan untuk doa dan kontemplasi, jalan untuk mencapai ketenangan dan keheningan, sebab tanpa itu doa menjadi sukar, bahkan mustahil.

Sekali lagi pejamkan mata. Sadarilah perasaan-perasaan di berbagai bagian tubuh anda.

Yang paling baik: tidak memikirkan bagian-bagian mana dari tubuh anda, seperti “tangan” atau”kaki” atau”punggung”,tetapi hanya berpindah-pindah dari perasaan satu ke perasaan lain, dan tidak memberi nama atau tanda apa-apa pada anggota dan indra, selama anda menyadarinya.

Bila anda didorong untuk bergerak atau merubah sikap duduk, jangan anda mengikutinya. Hanya sadarilah dorongan itu dan rasa sakit yang mungkin timbul pada tubuh anda dan menimbulkan dorongan itu.

Bertahanlah dalam latihan ini beberapa menit. Anda lambat-laun akan merasa keheningan dalam tubuh anda. Jangan sengaja berhenti menikmati keheningan itu! Teruskanlah latihan penyadaran ini dan biar keheningan itu berlangsung terus dengan sendirinya.

Kalau pikiran mulai menyasar, kembalikanlah pada penyadaran perasaan tubuh, berpindah-pindah dari bagian satu ke bagian yang lain. Sampai tubuh menjadi tenang lagi dan pikiran bersama tubuh masuk dalam keheningan, yang membawa damai dan suasana samadi, dekat dengan Tuhan. Tetapi sekali lagi, jangan sengaja berhenti menikmati keheningannya.
Mengapa tidak boleh menikmati keheningan selama mengadakan latihan? Menikmati itu santai dan menyenangkan! Tetapi kalau itu dituruti, ada bahaya anda akan terbius sementara atau memasuki alam kosong, dan tenggelam dalam biusan ini tidak membawa ke arah semadi dan kontemplasi.

Di sini ada semacam hipnose, yang tidak ada hubungannya dengan ketajaman kesadaran atau kontemplasi.

Maka penting sekali, bahwa anda tidak sengaja mau menciptakan rasa diam dan hening dalam diri anda untuk menikmatinya kalau timbul. Yang harus diusahakan justru kesadaran, dan tidak mematikannya dengan pembiusan, meskipun hanya sekedar. Maka meskipun ada keheningan, dan di dalam keheningan, dan di dalam keheningan sendiri, anda harus terus berkanjang dalam latihan kesadaran dan membiarkan keheningan dengan sendirinya berlangsung.

Nanti akan timbul saat-saat, di mana keheningan dan kekosongan menjadi lebih kuat, hinnga tidak memungkinkan usaha atau latihan lebih lanjut dari pihak anda. Di sini sudah bukan anda yang mencari keheningan, tetapi keheningan menguasai dan meliputi diri anda. Kalau ini terjadi, anda boleh menghentikan semua usaha, yang jelas sudah menjadi tidak mungkin lagi, dan menyerah kepada keheningan batin yang menguasai anda: sekarang ini aman dan ada gunanya.
LATIHAN DOA SADHANA

LATIHAN DOA SADHANA


KATA PENGANTAR
Sadhana, yang berarti “jalan”, di sini dikhususkan menjadi “jalan menemukan Tuhan”. Di Roma Pater Tony de Mello, seorang Yesuit asli India, memberikan latihan-latihan doa ini – belum dibukukan pada waktu itu, desember 1974 – maret 1975 – kepada puluhan peserta dari berbagai Negara, setiap pagi sekitar ¾ jam.
Karena tanggapan yang begitu menggembirakan, selain “latihan doa” dalam bahasa inggris, ia masih membuka latihan lain dalam bahasa spanyol, yang ramai dikunjungi juga. Pada waktu itu diusulkan kepada Pater de Mello untuk membukukan latihan- latihan doa itu, dan menerbitkan untuk umum.
Selama beberapa tahun satu dua orang pergi ke Poona ( India ) untuk belajar doa itu di pusat “Sadhana” di bawah bimbingannya. Satu kali Pater de Mello sendiri datang ke Indonesia 10 – 18 oktober 1976, memimpin “latihan doa” di Girisonta untuk kelompok kecil. Sesudah itu masih ada saja orang mengunjungi Istitut “Sadhana” di Poona untuk menimba kekayaan yang disalurkan lewat doa-doa, seperti diajarkan dalam buku ini.
Perhatian dan Permintaan akan doa-doa ini menjadi lebih luas di kalangan umat, karena sikap dan cara dirasa baik dan sesuai bagi kebudayaan timur dan khususnya kebudayaan katolik di Indonesia. Kita masih mencari-cari ekspresi doa yang berisikan saluran murni dari tradisi kristiani Barat-Timur sepanjang jaman, dan diungkapkan dalam cara-cara yang mudah dapat membudaya di lingkungan kita.

Semoga sumbangan Pater de Mello, kelahiran Goa yang berabad-abad bertradisi katolik itu, dapat membuka arah baru untuk menemukan kepribadian kita sendiri di bidang doa.

PENDAHULUAN
Lima belas tahun terakhir ini saya bertugas sebagai pemimpin retret dan pembimbing rohani membantu orang untuk berdoa. Saya mendengar banyak keluhan: orang tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Bagaimanapun mereka berusaha, kelihatan tidak ada kemajuan. Rasanya doa membosankan dan mengecewakan. Saya banyak mendengar pembimbing rohani menyatakan tidak berdaya, kalau sampai pada soal bagaimana mengajar orang berdoa, atau lebih jelasnya, bagaimana mencapai kepuasan dan perkembangan dalam doa.
Hal ini selalu mengherankan saya, sebab saya cukup mudah dapat menolong orang berdoa. Hal ini tidak saya hubungkan melulu dengan karisma, yang saya miliki. Hal ini saya hubungkan dengan beberapa dasar sederhana, yang saya ikuti untuk doa saya sendiri dan untuk membimbing orang lain berdoa. Salah satu dasar menyatakan, bahwa doa itu suatu latihan yang membawa perkembangan dan memberi kepuasan, dan memang banyak kita mencari ini semua dalam doa. Dasar lain menyatakan bahwa doa itu harus lebih dilakukan dengan hati daripada dengan budi. Memang semakin cepat doa bebas dari pemikiran kepala, semakin jadi menyenangkan dan bermanfaat. Kebanyakan Imam dan religius menyamakan doa dengan berpikir-pikir. Itu gagasan mereka.
Seorang rekan Yesuit bercerita kepada saya, bahwa ia menghubungi seorang guru Hindu untuk mendapatkan pengarahan dalam hal doa. Guru itu berkata: Pusatkan perhatinmu pada pernafasan. Rekan saya langsung melakukan itu selama 5 menit. Lalu Guru berkata:“Udara yang anda hirup itu Tuhan. Anda menghirup Tuhan dan menghembuskan –Nya. Sadarilah itu dan bertahanlah dalam kesadaran itu”. Rekan saya dalam pikirannya melakukan penyesuaian teologi sedikit terhadap pernyataan tadi, lalu menjalankan perintah guru: Berjam-jam, hari demi hari dan ia kagum menemukan bahwa berdoa itu dapat menjadi sederhana seperti bernapas saja; menghirup dan menghembuskan udara. Dalam latihan ini ia mengalami pendalaman dan kepuasan, serta mendapatkan santapan rohani, yang tidak pernah ia peroleh selama berjam-jam, bertahun-tahun berdoa.
Latihan-latihan yang saya uraikan dalam buku ini, hampir serupa dengan pengarahan guru hindu, yang sejak itu tidak pernah saya jumpai atau dengar kabarnya lagi. Saya juga mempunyai beberapa pendapat tentang doa, tetapi ini baru akan saya jelaskan bersama dengan latihan-latihannya nanti, bagaimana itu mendasarinya.
Sering latihan-latihan ini saya berikan keepada beberapa kelompok orang, semacam “kelompok doa” atau lebih tepat “kelompok samadi”. Beda dengan anggapan umum, kelompok samadi itu memang mungkin. Memang dalam situasi tertentu,samadi lebih berhasil dilakukan bersama / berkelompok dari pada sendirian / perorangan. Saya tulis latihan-latihan ini dengan bentuk dan bahasa hamper sama seperti yang saya berikan kepada orang dalam kelompok. Kalau anda ingin mengadakan “kelompok samadi” dan mengunakan buku ini sebagai pegangan, anda hanya tinggal mengambil teks ini untuk setiap latihan dibaca perlahan-lahan, dan kerap kali berhenti cukup lama,terutama pada tempat-tempat yang ditandai dengan titik-titik:……………………….

Melulu membaca teks ini keepada orang lain belum cukup untuk menjadi pembimbing kelompok samadi yang baik. Untuk itu anda harus menjadi orang berpengalaman dalam samadi lebih dulu. Anda sendiri harus sudah pernah mengalami hal-hal yang anda bacakan kepada orang lain. Dan anda juga harus memiliki sekedar ketrampilan membimbing orang dalam bidang rohani. Latihan-latihan ini bukannya mengantikan pengalaman pribadi dan kemahiran di bidang rohani, melainkan hanya merupakan langkah pertama, yang niscaya akan membawa manfaat bagi anda dan kelompok. Saya berusaha untuk menghapus latihan-latihan yang memerlukan bimbingan seorang ahli di bidang doa. Dan bila ada bahaya bahwa suatu latihan akan merugikan, saya akan menunjukan hal ini dan memberikan sarana untuk mencegah,
Saya persembahkan buku ini kepada Santa Perawan Maria, yang bagi saya selalu merupakan tokoh samadi atau teladan kontemplasi. Bahkan lebih dari itu, saya yakin, bahwa Ibu inilah yang menjadi Perantara rahmat, yang dianugerahkan kepada saya dan banyak orang lain, yang membimbing dalam doa dan kiranya tanpa Dia tidak akan kita terima.

Latihan 1:
KEKAYAAN DALAM KEHENINGAN
“Keheningan itu wahyu agung” kata Lao-Tse. Kita bias memikirkan Kitab Suci sebagai wahyu Tuhan. Dan memang demikian!
Saya sekarang ingin anda dapat menemukan wahyu yang tersimpan dalam keheningan. Untuk meresapi wahyu, yang datang lewat Kitab Suci, anda harus membuka hati terhadap Kitab Suci. Untuk meresapi wahyu, yang datang lewat keheningan, anda harus mencapai keheningan lebih dahulu. Dan ini tidak mudah. Marilah kita mencoba ini dalam latihan berikut:
Saya ingin anda masing-masing mengambil sikap yang sesuai.
Pejamkan mata.
Sekarang saya mengajak anda untuk hening-diam selama sepuluh menit.
Pertama-tama anda mencapai keheningan, keheningan yang mutlak menyeluruh, meliputi budi dan hati. Kalau sudah mencapai ini, anda membuka diri terhadap apa yang datang lewat “pewahyuan”(penyingkapan)
Sesudah sepuluh menit saya akan mempersilahkan anda membuka mata, dan bila rela, berbagi-rasa dengan kita: apa yang telah anda lakukan dan anda alami selama sepuluh menit itu.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Dalam berbagi rasa dengan kita semua tentang apa yang anda lakukan dan alami, jelaskan kepada kita, bagaimana anda berusaha mencapai keheningan dan bagaimana hasilnya.
Uraikan keheningan itu sedapatnya. Ceritakan, apa yang anda alami dalam keheningan itu. Ceritakan apa saja yang masuk dalam pikiran dan perasaan selama latihan ini.

Pengalaman orang yang mencoba latihan ini amat berbeda-beda. Kebanyakan orang menemukan dengan terkejut, bahwa keheningan itu sesuatu yang mereka tidak biasa. Bahwa apa pun yang mereka coba, mereka tidak mampu menghentikan pikiran yang terus melayang-layang atau meredakan gejolak emosi yang mereka rasai di dalam hati. Ada orang lain yang merasa sudah mendekati batas keheningan, lalu mereka mengalami semacam panik, kemudian mundur. Keheningan itu kadang-kadang menakutkan.
Tidak perlu putus asa. Bahkan pikiran yang melayang-layang itu menyingkapkan sesuatu, bukan? Suatu wahyu! Kenyataan, bahwa pikiran anda melayang-layang, bukankah itu menyingkapkan (mewahyukan) sesuatu tentang diri anda? Tidak cukup, menyadari hal ini! Anda harus mengambil waktu untuk mengalami pikiran melayang-layang. Dan bagaimana jalannya pikiran melayang-layang, itu sendiri mengungkapkan banyak juga. Dan ada sesuatu yang menarik bagi anda. Kenyataan, bahwa anda sadar akan pikiran melayang-layang atau akan gejolak di dalam batin atau sadar akan ketidak mampuan anda untuk menghentikannya,semua itu menunjukan bahwa ada suatu lapisan keheningan tipis dalam diri anda, namun sekurang-kurangnya cukup untuk menyadari ini semua!
Sekali lagi pejamkanlah mata anda dan sadarilah pikiran anda yang melayang-layang …………. Selama dua menit saja……………………………………………………
Sekarang rasailah keheningan, yang memungkinkan anda menyadari pikiran yang melayang-layang itu tadi.
Itulah keheningan tipis sekali, yang ada dalam diri anda; itu hendak kita bangun sepanjang latihan-latihan, yang akan menyusul ini. Dengan perkembangannya, keheningan akan menyingkapkan lebih banyak lagi tentang diri pribadi anda. Atau lebih tepat, keheningan akan menyingkapkan diri anda kepada anda sendiri. Itulah pewahyuan yang pertama, “diri anda sendiri”. Dan dalam dan lewat pewahyuan ini anda akan mencapai hal-hal yang dengan uang tak terbeli, hal seperti kebijaksanaan dan kedamaian, kegembiraan dan……………………..TUHAN.
Untuk mencapai hal-hal yang tak ternilai harganya ini tidak cukup anda berefleksi, berbicara, bertukar pendapat. Yang diperlukan itu usaha. Mulailah usaha itu sekarang ini juga.
Pejamkan mata anda. Carilah keheningan dalam waktu lima menit lagi. Pada akhir latihan amatilah , apakah kali ini usaha anda lebih berhasil atau kurang.
Amatilah, apa keheningan menyingkapkan sesuatu kepada anda, yang tadi tidak anda perhatikan.
Jangan mencari-cari, sesuatu yang serem akan mulai tersingkap dalam keheningan – terang, ilham, ilmu. Malahan jangan mencari sama sekali. Sebaiknya anda membatasi diri dengan mengamati .
Tampunglah setiap hal, yang timbul dalam kesadaran anda : setiap hal, bagaimanapun biasa dan sederhana, itu menjadi pewahyuan bagi anda. Pewhyuan yang anda terima itu mungkin hanya berupa tangan yang berkeringat, dorongan untuk merubah sikap, atau kekhawatiran akan kesehatan anda. Tidak perduli! Yang penting ialah, bahwa anda menjadi sadar akan hal itu. Isi kesadaran anda itu kurang penting dari pada mutu kesadaaran anda. Kalau mutu membaik, keheningan anda menjadi lebih dalam. Dan kalau keheningan anda menjadi lebih dalam, anda akan mengalami perubahan. Dan anda dengan gembira akan menemukan, bahwa pewahyuan itu bukan pengetahuan. Pewahyuan itu kekuasaan: kekuatan gaib yang membawa perubahan.

(Bersambung Latihan berikutnya....)
Tips Doa St. Teresia Avila

Tips Doa St. Teresia Avila

Setelah mengetahui sedikit banyak tentang kehidupan beberapa Santo Santa, saya semakin kagum kepada rahmat yang Tuhan Yesus berikan pada setiap orang, juga kepada saya dan anda, yaitu rahmatNya itu unik bagi setiap orang.

RahmatNya menyempurnakan kodrat. RahmatNya akan melengkapi segala kelemahan dan kelebihan manusia agar manusia itu dapat menjadi lebih dekat kepadaNya. Cara Roh Kudus bekerja pada orang pendiam akan berbeda dengan cara kerjaNya pada orang yang suka heboh, juga akan beda bagi orang seperti anda dan saya.

Sungguh, seperti seorang Bapa di dunia yang sayang pada anaknya, demikian juga Ia, Bapa kita yang ada di surga juga ingin dekat dan selalu mencintai anak-anakNya.


Kagum dengan karya Roh Kudus dalam St. Theresia Avila
Saya melihat ada kelemahan yang Roh Kudus perbaiki dalam kehidupan seorang Santa ini, juga dalam karya tentang cara berdoa (Puri Batin) saya melihat Roh Kudus memberikan inspirasi sesuai dengan kodrat Santa yang berasal dari keluarga bangsawan yang akrab dengan yang namanya puri.

Cara berdoa yang sungguh luar biasa dari Santa kita ini adalah ada 3 hal yang harus kita sadari saat berdoa:

1. Sadar sedang berdoa
Seringkali kita berdoa tanpa hati, cepat sekali kata-katanya dan tanpa bobot. Doa rosario full cuman 15 menit, wah...ngebut tuh...atau Doa Bapa Kami 10 detik... saat mengucapkan: "Bapa Kami yang ada di surga dimuliakanlah namaMu" dst tanpa arti

2. Sadar pada siapa kita berdoa
Kita sedang berbicara pada Allah Bapa yang sangat mencintai kita. Jadi saat kita mengucapkan kata "Bapa", bayangkanlah Ia ada di depan kita, memandang kita dengan cintaNya. Ia melihat kedalaman hati kita dan kita mempersembahkan hati kita kepadaNya yang selalu menerima dan mencintai kita apa adanya.

3. Sadar kita ini berdosa dan selalu butuh kerahimanNya.
Dengan kesadaran ini, akan membuat hati kita menjadi berkobar-kobar untuk terus menantikanNya setiap saat karena Ia adalah Allah yang maharahim yang tidak pernah menolak hati yang remuk redam.

Ketika saya mendengarkan penjelasan ini, hati saya sungguh bersukacita dan bersyukur akan rahmatNya dalam kehidupan ini.

Bila anda rindu untuk memperoleh kemenangan atas masalah2 anda, bila anda rindu untuk mempunyai cinta yang menyala kepada Tuhan Yesus Kristus, mari kita belajar dari St. Theresia Avila tentang cara berdoa diatas dan mempraktekkannya.

Jadi untuk praktek cara doa diatas (misal mau doa Bapa Kami).... ingat kata kuncinya :
sedang apa, pada siapa, siapa saya

"Sedang apa?" sedang berdoa, ingatlah anda sedang berdoa
"Pada siapa?" pada Bapa yang mengasihi anda
"Siapa saya?" saya berdosa butuh kerahimanNya

dengan 3 kesadaran tadi kita mulai ucapkan: "Bapa kami... dst"

Catatan: Kesadaran diatas itu membantu kita untuk lebih fokus & mencintaiNya saat berdoa.
Doa bukanlah banyak berpikir, tetapi banyak mencinta (St Theresia Avila)

Bagaimana bila ada pelanturan?
Jangan dilawan dengan keras atau marah atau jengkel, tapi tersenyumlah karna itu memang kelemahan kita manusia. Abaikan pelanturan, langsung kembali lagi ke doa anda yang semula.

Selamat berdoa, bila sudah kuat, kuatkan juga saudara-saudara yang lain.
Kebiasaan Umat Katolik

Kebiasaan Umat Katolik

Setiap masyarakat mempunyai tradisi atau kebiasaan, yang mampu menopang dan melestarikan kehidupan dan kesatuan masyarakat itu sendiri. Gereja, sebagai masyarakat kaum beriman, juga memiliki bermacam-macam kebiasaan. Dalam perjalanan sejarah kebiasaan itu telah membentuk, menopang, dan membangun jemaat beriman. Kita ditantang untuk mengamalkan, menyegarkan dan kemudian mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Dalam site ini hanya diambil sejumlah kebiasaan yang pokok mengingat tempat yang tersedia serba terbatas. Di luar ini masih banyak kebiasaan yang baik, yang juga patut dihayati, dilestarikan, dan dikembangkan.

1. Berhimpun pada hari Minggu
Pada hari Minggu, umat kristen wajib berhimpun untuk Perayaan Ekaristi, atau untuk Perayaan Sabda (lihat KHK 1247-1248). Kebiasaan ini didasarkan pada tradisi para rasul yang berpangkal pada hari kebangkitan Kristus sendiri. Pada hari Minggu, Gereja berkumpul untuk merayakan misteri Paskah, yakni mengenangkan sengsara, wafat, kebangkitan, dan kemuliaan Tuhan Yesus. Dalam pengenangan ini, Gereja mendengarkan sabda Allah dan berpartisipasi dalam Ekaristi; Gereja juga bersyukur kepada Allah yang telah “melahirkan kembali mereka ke dalam hidup yang penuh pengharapan” (lihat 1Ptr 1:3; KL 106).

2. Membaca Kitab Suci
Gereja menghendaki agar khazanah Kitab Suci dibuka lebih lebar kepada umat (lihat KL 51), sebab di dalam Kitab Suci Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus mewartakan kabar gembira Injil (lihat KL 184). Kitab Suci adalah sumber dan dasar iman kita. Dengan membaca Kitab Suci kita mengenal Kristus. Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus, dan pengenalan akan Yesus Kristus ini lebih mulia daripada segala sesuatu (lihat DV 25). Dengan rajin membaca Kitab Suci, banyak orang telah memperoleh pengalaman serta kekuatan iman yang mengagumkan, terutama mereka yang tidak hanya membaca, tetapi juga mengamalkannya (lihat Yak 1:22).

3. Melaksanakan Ibadat Harian
Kristus memerintahkan, “Orang harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1). Para rasul mempunyai kebiasaan berdoa pada jam-jam tertentu, baik bersama-sama di Bait Allah (lihat Kis 3:1) maupun secara pribadi di rumah (lihat Kis 10:9.30). Paulus juga menandaskan agar umat berdoa setiap waktu (lihat Ef 6:18). Karena didorong oleh teladan serta nasihat-nasihat itu, Gereja dengan setia dan tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dan Gereja menegaskan bahwa “Dengan pengantaraan Yesus, marilah kita selalu mempersembahkan kurban syukur kepada Allah” (Ibr 13:15). Gereja telah mengembangkan Ibadat Harian, yakni ibadat pada jam-jam tertentu setiap hari: Ibadat Bacaan, Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore, Ibadat Penutup; atau paling tidak Doa Pagi dan Doa Malam untuk mengawali dan menutup hari dalam nama Tuhan. Dengan berdoa seperti ini, Gereja menguduskan seluruh hari dan seluruh kegiatan manusia (lihat PIH 11).

4. Berdoa Bersama dalam Keluarga
Keluarga orang beriman adalah “Gereja kecil”. Gereja sungguh terwujud dalam keluarga jika para anggota keluarga berhimpun dalam nama Tuhan. Dalam himpunan ini tergenapilah janji Tuhan kepada umat-Nya, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).
Doa bersama ini dapat dilakukan dalam dua bentuk: pertama, semua anggota keluarga berkumpul di suatu tempat dan pada saat yang sama untuk berdoa bersama; kedua, mereka berkumpul pada jam yang sama. Bila anggota keluarga tidak mungkin berkumpul (misalnya ada anggota yang sedang bepergian), keluarga dapat menetapkan jam tertentu untuk berdoa, sehingga kendati berjauhan tempat, mereka merasakan adanya kebersamaan dalam doa.

5. Berdoa secara Pribadi
Di samping Ibadat Harian dan berdoa bersama, umat beriman dianjurkan agar selalu berkanjang dalam doa, sebagaimana diajarkan oleh Rasul Paulus (lihat 1Tes 5:17). Gereja menandaskan: selain dipanggil untuk berdoa bersama, orang kristen harus juga masuk ke dalam biliknya untuk berdoa secara pribadi seperti dikatakan Yesus sendiri, “Jika Engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (lihat Mat 6:6; KL 12).

6. Terlibat dalam Kehidupan Jemaat setempat (Lingkungan, Stasi, Paroki)
Kita adalah Tubuh Kristus. Setiap anggota mempunyai tugas dan peran yang khas, yang tak tergantikan (lihat 1Kor 12:12-31). Maka setiap anggota jemaat harus sungguh terlibat dalam semua segi kehidupan Gereja (persekutuan, liturgi, pewartaan dan pelayanan) baik dalam lingkup lingkungan, stasi, maupun paroki. Mereka juga terikat dengan kewajiban membantu memenuhi kebutuhan Gereja (lihat KHK 222).

7. Terlibat dalam Masyarakat
Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menegaskan bahwa kita adalah garam dan terang dunia (lihat Mat 5:13-16). Maka setiap orang beriman dituntut sungguh-sungguh melibatkan diri dalam masyarakat, dan lewat keterlibatan ini mengamalkan amanat Yesus menggarami dan menerangi dunia.
Mereka hendaklah sungguh terlibat dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat, terutama yang miskin dan terlantar (lihat OS I).

8. Berpuasa dan Berpantang
Puasa adalah ungkapan tobat, dan sekaligus merupakan ulah doa yang hangat.
Dalam tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting, yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar, khususnya Paskah.
Dalam tradisi Gereja, para katekumen berpuasa sebelum dibaptis. Mendampingi mereka, seluruh umat beriman juga berpuasa. Masa Puasa yang secara resmi ditetapkan Gereja adalah Prapaskah. Tetapi, selama Masa Prapaskah itu hari puasa resmi hanya dua, yakni Rabu Abu dan Jumat Agung. Puasa Paskah harus dipandang keramat dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat Agung. Bila mungkin, puasa ini hendaklah diperpanjang sampai hari Sabtu Suci (lihat KL 110). Namun Gereja sangat menghargai warganya yang berpuasa penuh selama 40 hari menjelang Paskah meneladan cara berpuasa Musa, Elia dan terutama Yesus. Di samping itu, secara pribadi, umat kristen disarankan untuk berpuasa pada hari-hari yang dipilihnya sendiri, sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Puasa ini juga bermanfaat untuk membangun semangat pengendalian diri dan menumbuhkan semangat setiakawan dengan sesama yang berkekurangan.
Di samping berpuasa, Gereja juga mempunyai kebiasaan berpantang. Pantang dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari Jumat itu bertepatan dengan hari raya gerejawi (lihat KHK 1251). Pada hari-hari puasa dan pantang umat kristen meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk berdoa, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal (lihat KHK 1249). Kecuali itu Gereja juga menetapkan pantang selama satu jam sebelum kita menyambut Sakramen Mahakudus.

9. Memeriksa Batin
Dewasa ini, manusia semakin sibuk. Untuk mengimbangi kesibukan yang lebih bersifat lahiriah dan badani ini, kita perlu meningkatkan olah batin: mengadakan renungan, mawas diri. Dalam Gereja, pemeriksaan batin ini sering dikaitkan dengan pertobatan karena lewat pemeriksaan batin ini kita dibantu untuk jujur di hadapan Allah: menyadari dan mengakui kekurangan yang tak dapat kita tutupi. Sebab kalau kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita (lihat 1Yoh 1:8).
Pemeriksaan batin dapat membantu kita makin sadar akan kebaikan Allah dan membangkitkan penyesalan yang tulus atas dosa (lihat PUTL 26). Pemeriksaan batin sebaiknya diadakan setiap hari menjelang tidur, atau pada saat-saat khusus: rekoleksi, retret, Perayaan Ekaristi dan lain-lain.

10. Mengaku Dosa di Hadapan Imam
Inti hidup kristen adalah bertobat: meninggalkan dosa dan kegelapan, lalu hidup sebagai anak-anak terang (lihai Ef 5:8). Orang yang bertobat adalah orang yang dengan tulus menyadari kelemahan dan kedosaannya, dan dengan rindu mendambakan perdamaian kembali dengan Allah dan dengan sesama warga, seperti anak hilang yang kembali kepada bapanya yang penuh kasih (lihat Luk 15:11-32). Yesus sendiri bersabda, “Akan ada suka-cita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:7). Tobat berpuncak pada pengakuan dan pengampunan. Inilah yang disebut rekonsiliasi atau perdamaian kembali. Perdamaian ini merupakan peristiwa suka-cita yang membawa penyegaran dan hidup baru, karena dengan itu Allah sendiri mendamaikan orang berdosa dengan diri-Nya (lihat 2Kor 5:18).
Mengaku dosa di hadapan imam merupakan perwujudan dari tobat. Dengan mengaku dosa, orang berdosa kembali menjalin ikatan yang baik dengan Allah dan sesama warga Gereja.
Sehubungan dengan pengakuan dosa ini, Gereja juga mempunyai kebiasaan Ibadat Tobat Jemaat, yang dimaksudkan untuk membangun dan mengembangkan sikap tobat dalam diri umat.
TATA PERAYAAN EKARISTI

TATA PERAYAAN EKARISTI


TATA CARA dan URUTAN PERAYAAN EKARISTI:

Bagian 1 : RITUS PEMBUKA

Bertujuan mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan umat untuk mendengarkan sabda Allah danmerayakan Ekaristi dengan layak.

Ritus pembuka terdiri atas beberapa bagian :

1. Perarakan masuk (berdiri):

tujuan untuk membuka misa, membina kesatuan umat, mengantar masuk misteri iman sesuai dengan masa liturgi, mengiringi perarakan imam beserta pembantunya

2. Pendupaan & Penghormatan Altar :

Imam (mewakili umat) menghormati altar dengan mencium altar.
Pendupaan diadakan untuk hari-hari besar / hari khusus. Imam mengisi dupa & memberkati dengan membuat tanda salib. Pendupaan itu untuk penghormatan pada Sakramen Mahakudus, reliqui salib/patung Tuhan, bahanpersembahan, Kitab Injil,lilin paskah, imam dan jemaat.

3. Tanda Salib :
Imam mulai perayaan ekaristi dengan membuat tanda salib “Dalam (Demi) nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”. Umat membuat tanda salib dan menjawab “Amin”. TANDA SALIB menyatakan 2 pengakuan iman-Tanda Keselamatan kita, yakni Salib Kristus, Kekuatan dan kemegahan orang Kristen terletak pada “salib Tuhan kitaYesus Kristus” (Gal 6:14)

Mengenang pembaptisan kita, dengan menyebut Allah Tritunggal. Oleh karena itu setiap kita membuat tanda salib sebenarnya menghubungkan kita dengan Sakramen Baptis.

4. Salam :
Imam menyampaikan salam dengan mengatakan “Tuhan sertamu” dan umat menjawab “ Dan sertamu juga”, menyatakan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah umat yang hadir.

5. Pengantar :
Imam mengarahkan umat kepadainti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu.
6. Tobat (berlutut) :
umat menyampaikan penyesalan dan pertobatan atas dosa dan kesalahan pada Tuhan dan sesama. Ada beberapa rumusan pernyataan tobat, salah satunya “Saya mengaku kapada Allah yang Maha Kuasa...” dan kemudian imam memberikan ABSOLUSI / PENGAMPUNAN dengan menjawab “Semoga Allah yang Mahakuas mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal”. Absolusi / Pengampunan ini tidak memiliki kuasa yang sama dengan pengampunan pada Sakramen Tobat.

7. Tuhan Kasihanilah:
seruan / litani untuk mohon belas kasih Tuhan, yang diteladankan dua orang buta yang disembuhkan Yesus (lih Mat 9:27).

8. Kemuliaan (berdiri):
madah untuk memuji dan memuliakan Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus.

9. Doa Pembukaan :
diawali dengan waktu hening untuk menyadari kehadiran Tuhan,  mengungkapan permohonan kita dalam hati, kemudian Imam menggabungkan seluruh doa dengan ujud doa pada misa tersebut.

Bagian 2 : LITURGI SABDA

Terbagi menjadi 2 struktur : Allah yang bersabda dan Umat yang menanggapi. Merupakan dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi (mazmur tanggapan)

1. Bacaan Pertama (duduk) :
Bacaan Pertama diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Bacaan pertama ada hubungannya dengan Injil hari itu ; tujuannya memberi latar belakang sehingga menambah pengertian/ pemahaman sejarah keselamatan Allah dari perjanjian lama dan berpuncak pada Yesus yang di wartakan dalam Injil.

2. Mazmur Tanggapan (duduk)
Merupakan tanggapan umat atas Sabda Allah yang baru diwartakan. Biasanya dinyanyikan yang diilhami oleh Allah sendiri karena diambil dari Kitab Mazmur dan umat menyanyikan dibagian refren.

3. Bacaan Kedua (duduk)

Bacaan Kedua biasanya diambil dari tulisan / surat di perjanjian baru, misalnya salah satu surat Rasul Paulus dll. Bacaan kedua mewartakan iman akan Yesus menurut konteks Gereja Perdana. Bacaan kedua bertujuanmempersiapkan umat pada puncak perayaan sabda yakni Injil.

4. Alleluya / Bait Pengantar Injil (berdiri)
Tujuan untuk mempersiapkan umat untuk mendengarkan bacaan Injil, umat menyanyikan “ALLELUYA” artinya Terpujilah Tuhan, yang mengingatkan pujian atas Tuhan yang bangkit / Paskah. Semua umat berdiri sebagai ungkapan hormat pada Sabda Allah.

5. Injil (berdiri)
Merupakan puncak Liturgi Sabda. Gereja percaya bahwa Kristus "hadir dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang bersabda ketika Kitab Suci dibacakan di gereja". Oleh karena itu, bacaan injil mempunyai beberapa keistimewaan :
Dibacakan oleh imam / diakon dan umat berdiri.
Injil di hormati dengan pendupaan (untuk hari raya/ pesta)
Sebelum bacaan injil ada dialog antara imam & umat : "Tuhan sertamu” dan umat menjawab “Dan sertamu juga”.
Kemudian Imam berkata, "Inilah Injil Yesus Kristus menurut (Lukas / Matius / Markus /Yohanes)” dan umat menjawab “Dimuliakanlah Tuhan”, sambil membuat TANDA SALIB di kening, bibir dan hati dengan ibu jarinya, kita bisa ungkapkan dalam hati “SabdaMu, ya Tuhan kami pikirkan dan renungkan (tanda salib dikening), kami wartakan (tanda salib dimulut), dan kami resapkan dalam hati (tanda salib didada/hati).

6. Homili (duduk)
Homili dimaksudkan untuk mewartakan dan mendalami sabda Allah / misteri iman yang bertolak dari bacaan / tema yang baru dibacakan, de
ngan bahasa / situasi umat yang dihadapi saat ini sehingga dapat memperteguh iman umat.

7. Syahadat–Doa Aku Percaya  (berdiri)
Merupakan pernyataan iman seluruh umat, sekaligus meng-AMIN kan bacaan dan homili yang telah kita dengarkansebelumnya.

8. Doa Umat  (berdiri)
Adalah doa seluruh umat beriman bukan hanya untuk kepenting diri sendiri dan kelompok, melainkan doa untuk seluruh Gereja semesta. Biasanya doa umat mencakup : doa bagi Gereja, negara dan pemimpin masyarakat, bagiorang-orang dengan kepentingan khusus dan bagi kepentingan umat paroki. JIka di beri waktu hening, kita pun dapat mendoakan doa kita dalam hati. Ditiap doa umat menjawab “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan."
Biasanya doa dibuka & ditutup oleh imam / prodiakon, kemudian tiap doa didoakan oleh lector/pembaca.

Bagian 3 : LITURGI EKARISTI

1. PERSEMBAHAN (duduk)

A. Kolekte
Persembahan umat diwujudkan dalam KOLEKTE (pengumpulan uang). Kolekte bukan bertujuan untuk membebani umat / memperkaya gereja / memperkaya imam. Kolekte adalah bentuk partisipasi umat bukan hanya untuk keperluan roti dan anggur yang akan di ubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, tapi yang lebih utama adalah UNGKAPAN SYUKUR atas kebaikan Allah. Uang hasil kolekte dipakai untuk berbagai keperluan gereja dan kepedulian kita terhadap orang miskin. Selama kantong kolekte diedarkan, Imam mempersiapkan altar, mendoakan persembahan yang ada di altar agarpantas diterima Tuhan, Imam berdoa agar diriNya pantas untuk mempersembahkan Tubuh dan Darah Kristus sambilmembasuh tangan tanda penyucian.

B. Doa Persiapan Persembahan
Selanjutnya Imam mengajak umat untuk berdoa “Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselematan kita serta seluruh umat yang kudus” dan umat menjawab "Amin” atas Doa Persiapan Persembah
an dan berlutut / berdiri untuk mengikuti Doa Syukur Agung.

2. DOA SYUKUR AGUNG  (berlutut)
Doa Syukur Agung (disingkat DSA) adalah puncak perayaan Misa dan inti iman kita. DSA merupakan suatu doa syukurdan pengudusan. Bagian-bagian yang paling penting dalam Doa Syukur Agung ialah:

A. Prefasi (berdiri) :
artinya doa yang mengiringi kurban, sebagai bentuk ucapan syukur atas seluruh karya penyelamatan Nya.-Imam mengawali dengan "Tuhan bersamamu." Dan di jawab “Dan sertamu juga”-Imam mengajak untuk lebih fokus / mengarahkan perhatikan/hati kita seluruhnya kepada misteri iman : “Marilahmengarahkan hati kepada Tuhan”, umat menjawab “Sudah kami arahkan”-Imam mengundang umat untuk bersyukur kepada Tuhan “Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita”, umat menjawab : "Sudah kami arahkan."
Sesudah dialog, imam melanjutkan dengan doa intinya pujian syukur dan memuji karya agung Allah yang menyelamatkan manusia

B. Menyanyikan / menyerukan KUDUS :
menyatakan betapa luar biasanya Allah kita "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu."

C. Mendoakan Doa Syukur Agung  (berlutut).
Dalam TPE ada 10 jenis Doa Syukur Agung dan dipilih salah satu sesuai dengan tema perayaan). Doa Syukur Agung diucapkan oleh imam saja. Bagian-bagian dari Doa Syukur Agung:
-   Diawali doa permohonan agar Roh Kudus menguduskan roti dan anggur
-   Bagian terpenting : kisah institusi dan konsekrasi, yaitu perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus secara transsubstansial. Kisah ini mengutip ucapan dan tindakan Yesus pada Perjamuan Terakhir yaitu
    "Terimalah dan makanlah. Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu" dan "Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan semua orang demi pengampunan kekal. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku." Di situ Kristus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur, dan memberikannya kepada para rasul untuk dimakan dan diminum, Kalimat "Lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku", yang menjadi dasar terselenggaranya Perayaan Ekaristi hingga saat ini.
-   Setelah konsekrasi diucapkan/dinyanyikan anamnesis, menyatakan tiga misteri iman Kristen: kematian Kristus, kebangkitan Kristus dan kedatanganNya kembali.
-   Dilanjutkan dengan doa dengan ujud khusus: bagi arwah, para orang kudus, pimpinan gereja mulai paus, uskup,imam hingga umat biasa. Ini kelebihan orang katolik dibandingkan orang kristen, yaitu Gereja Katolik selalu mendoakan para leluhur yang sudah meninggal agar mendapatkan pengampunan dosa & kehidupan kekal.
-   Doa Syukur Agung ditutup dengan Doksologi, yaitu pujian kepada Allah, Imam mengangkat piala dan hosti sambil
    mengucapkan "Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam DIa, bagi-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa" dan umat berkata "Amin".

3. BAPA KAMI (berdiri)
Kita mempersiapkan diri untuk makan dan minum di meja perjamuan Tuhan dengan kata-kata yang diajarkan oleh Yesus "Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami

4. DOA DAMAI (berdiri)
Komuni (dari bahasa Latin 'communio' = persekutuan) adalah sumber rekonsiliasi serta persekutuan kita dengan Tuhan dan dengan seluruh umat, oleh karena itu sebelum menerima komuni, Imam mengajak umat berjabat tangan kepada umat di sekeliling kita sebagai tanda damai & cinta kasih, sambil menyanyikan lagu “Salam Damai”.

5. PEMECAHAN ROTI diiringi Anak Domba Allah (berlutut)
Imam memecahkan Hosti diiringi dengan lagu Anak Domba Allah.
Pemecahan roti menandakan bahwa umat beriman yang banyak itu menjadi satu (1 Kor 10:17) karena menyambut komuni dari roti vang satu, yakni Kristus sendiri, yang wafat dan bangkit demi keselamatan dunia.

6. KOMUNI
-   Komuni diawali dengan Imam mengangkat tinggi hosti dan piala anggur yang telah dikonsekrasikan sambal mengucapkan "Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuannya" dan umat menjawab "Ya Tuhan,saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh", kemudian Imam berkata "Tubuh dan Darah Kristus", dan ditanggapi oleh umat dengan berkata "Amin". Kalimat ini mengutip kalimat tanda iman dari perwira kapernaum yang memohon penyembuhandari Yesus (lihat Mat 8:8). Iman ini pula yang kita teladani, dengan menerima Tubuh Kristus, kita pun disembuhkan!
-   Imam menerima komuninya, kemudian memberikannya prodiakon, putra altar, putri sakristi dan kemudian kepadaumat lainnya.
-   Umat dapat menerima komuni dalam satu rupa atau dua rupa dalam kesempatan khusus. Ajaran iman Gereja Katolik mengajarkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara satu rupa (hanya menerima Hosti) maupun dua rupa (menerima Hosti dan Anggur).
-   Pembagi komuni akan mengucapkan "Tubuh Kristus" dan penerima komuni menjawab "Amin" dengan sikap hormat.
-   Setelah umat menerima komuni, umat kembali ke tempat duduk dan berdoa secara pribadi. Isi doa pribadi dapat berupa ucapan syukur & memuji Tuhan karena Tuhan hadir & tinggal dalam hidup kita, permohonan agar dengan kehadiran Tuhan, kita semakin di beri kekuatan dan dibimbing terang Roh Kudus. (Lihat Buku Puji Syukur no 211)

7. DOA SESUDAH KOMUNI (berlutut)
Untuk menyempurnakan permohonan umat Allah, dan sekaligus menutup seluruh ritus komuni, imam memanjatkan doa sesudah komuni. Dalam doa ini imam mohon, agar misteri yang sudah dirayakan itu menghasilkan buah.

Bagian 4 : RITUS PENUTUP

1. PENGUMUMAN (duduk)
2. BERKAT & PENGUTUSAN (berlutut)
Imam memberi berkat dengan menyerukan Tritunggal Mahakudus sambil memberi berkat- Bapa, Putera dan Roh Kudus - kita membuat tanda salib. Kemudian imam mengakhiri Misa dengan berkata: "Marilah pergi! Kita diutus" dan kita jawaban liturgi, "Amin".

Perutusan merupakan konsekwensi dari seluruh perayaan. Setelah mendengarkan firman Tuhan, mengamininya,kitapun dipanggil untuk mewartakannya melalui hidup sehari-hari.

3. PERARAKAN (berdiri)
Seluruh umat memberi hormat kepada altar. Imam dan para pelayan meninggalkan ruang altar